Hari Raya Galungan Dirayakan Setiap 210 Hari, Kuningan 10 Hari Setelahnya, Berikut Maknanya 

Ada 2 perayaan dalam bulan Januari 2023 ini. Yakni Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan. Keduanya merupakan satu rangkaian.

AFP/SONNY TUMBELAKA
Warga membawa sejumlah sesaji saat perayaan Hari Raya Kuningan di Pura Sakenan di Pulau Serangan, Bali, Sabtu (26/9/2020). Hari Raya Kuningan yang digelar beberapa hari setelah Galungan ini dimaksudkan untuk merayakan saat Dewa-dewa dan leluhur kembali ke surga setelah bertemu keturunannya. (AFP/SONNY TUMBELAKA) 

TRIBUNKALTIMTRAVEL.COM - Umat Hindu akan menyelenggarakan atau merayakan beberapa hari besar keagamaan pada tahun 2013 ini.

Ada 2 perayaan dalam bulan Januari 2023 ini. Yakni Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan. Keduanya merupakan satu rangkaian.

Mengapa demikian? Berikut penjelasan Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana Bali I Gede Pitana.

Baca juga: Lagi Ngetren, Konsep Pariwisata Berkelanjutan Selaras dengan Falsafah Hindu Tri Hita Karana

Umat Hindu di Bali pada Sabtu (14/1/2023) ini akan memperingati Hari Raya Kuningan yang masih satu rangkaian acara dengan Hari Suci Galungan.

Jika Hari Suci Galungan dirayakan setiap 210 hari sekali, Hari raya Kuningan dirayakan 10 hari setelahnya, dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng Bali.

 

Makna Hari Raya Kuningan

Meski masih dalam satu rangkaian yang sama dan hanya berbeda hari, makna Hari Raya Kuningan dan Hari Suci Galungan itu berbeda.

Galungan diperingati untuk menyambut turunnya dewa dan leluhur ke bumi untuk menemui keluarganya, sedangkan Kuningan digelar untuk memperingati kembalinya para dewa dan leluhur ke surga setelah bertemu keturunannya.

"Kalau Kuningan, dewa-dewa leluhur kembali ke surga. Puncaknya tetap di Galungan. Kuningan itu mereka sudah kembali," kata Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana Bali I Gede Pitana, dikutip dari Kompas.com, Selasa (14/4/2021).

Sementara itu, dilansir dari laman Dinas Perumahan Buleleng, nama lain dari Hari Raya Kuningan adalah Tumpek Kuning.

Dalam perhitungan kalender Bali, Tumpek Kuning biasanya jatuh pada Sabtu Kliwon, Wuku Kuningan.

Umat Hindu sedang berdoa
Umat Hindu berdoa saat perayaan Hari Raya Kuningan di Pura Sakenan di Pulau Serangan, Bali, Sabtu (26/9/2020). (AFP/SONNY TUMBELAKA)

Hari Raya Kuningan yang digelar beberapa hari setelah Galungan ini dimaksudkan untuk merayakan saat Dewa-dewa dan leluhur kembali ke surga setelah bertemu keturunannya.(AFP/SONNY TUMBELAKA)

Ketika Kuningan dirayakan, umat Hindu akan sembahyang kepada para Pitara (sang pendahulu) untuk memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan, dan tuntunan lahir batin.

Diyakni bahwa pada saat Kuningan dirayakan, para dewa turun ke bumi bersamaan dengan para Pitara, tapi kedatangan mereka hanya sampai tengah atau siang hari.

Oleh karena itu, prosesi upacara dan sembahyang saat peringatan Kuningan hanya dirayakan sampai tengah hari atau pukul 12.00 siang.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa makna dari Hari Raya Kuningan adalah untuk meminta keselamatan, kedirgayusan, perlindungan, dan tuntunan lahir batin kepada para Dewa dan Pitara.

I Gede Pitana menambahkan bahwa Hari Raya Kuningan dirayakan sederhana saja, tak semeriah saat perayaan Galungan.

"Kuningan itu kecil. Biasa, misalnya seperti kita upacara di kantor, dibuka oleh menteri, ditutup pak lurah, misalnya. Jadi pembukaannya besar, penutupannya sekadarnya saja," tutur Pitana.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Makna Hari Raya Kuningan yang Masih Serangkaian dengan Galungan ", Klik untuk baca: https://travel.kompas.com/read/2022/06/18/161600127/makna-hari-raya-kuningan-yang-masih-serangkaian-dengan-galungan.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved