Terbuat dari Bahan-bahan Alami, Batik Lasem Disiapkan Jadi Suvenir Tourism Working Group G20

Gelaran G20 yang dibarengi dengan Tourism Working Group atau TWG membawa berbagai dampak, membuka berbagai kesempatan dan peluang menjadi terkenal

SHUTTERSTOCK/LEONARD S
Foto Ilustrasi proses pembuatan batik Lasem Tiga Negeri. SHUTTERSTOCK/LEONARD S 

TRIBUNKALTIMTRAVEL.COM - Gelaran G20 yang dibarengi dengan Tourism Working Group atau TWG membawa berbagai dampak, membuka berbagai kesempatan dan peluang menjadi terkenal.

Event kelas dunia ini harus dimanfaatkan sungguh-sungguh untuk memperkenalkan semua kekayaan sosial, budaya, adat istiadat, kuliner hingga batik dan kain tenun asli.

Kesempatan terbuka lebar bagi pelaku UMKM berbagai sektor untuk menampilkan hasil kreativitasnya, terutama di lokasi yang akan dikunjungi para delegasi G20.

Baca juga: Jumlah Wisman di Pulau Bali Jelang KTT G20 Meningkat Tajam, Okupansi Hotel di Atas 60 Persen

Salah satu kekayaan bangsa, batik tulis. Satu di antaranya adalah Batik Lasem disiapkan sebagai suvenir bagi penamping para peserta Tourism Working Group (TWG) G20.

Batik Lasem yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah ini menggunakan bahan-bahan alami dalam proses pembuatannya.

Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, hal itu sejalan dengan salah satu pilar G20, yakni keberlanjutan dan transformasi menuju ekonomi hijau.

"Salah satu pilar G20 ini adalah keberlanjutan dan transformasi menuju ekonomi hijau. Scarf-nya (batik lasem) buat para istri menteri pariwisata dari berbagai negara yang hadir," kata Sandiaga dalam Weekly Press Briefing secara hybrid, Senin (19/09/2022).

Sebanyak 50 scarf disiapkan untuk dibagikan kepada para pendamping peserta TWG G20. Scarf batik yang memadukan motif Jawa dan Tionghoa tersebut merupakan hasil kolaborasi Asia Pacific Rayon (APR) dengan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Kristen Maranatha Bandung.

Langkah ini juga sesuai dengan tema yang diusung TWG dalam hal penguatan komunitas dan UMKM.

Baca juga: Sandiaga Uno Pesan 120 Helai Kain Tenun Gringsing Bali, Hadiah untuk Delegasi KTT G20


Menurut Direktur Industri Kreatif, Fesyen, Desain, dan Kuliner Kemenparekraf, Yuke Sri Rahayu, pemilihan batik tulis Lasem sebagai suvenir juga cocok dengan emang fesyen berkelanjutan yang belakangan semakin banyak digaungkan.

"Sangat menarik untuk digunakan, dipromosikan oleh para istri menteri. Mudah-mudahan bisa mendunia," ucapnya.

Seperti batik dari daerah-daerah lain, motif-motif batik Lasem selalu mengangkat apa yang ada di sekitar. Seperti motif sekar jagad yang menggambarkan Bhineka Tunggal Ika atau keberagaman. Ada pula motif bunga peony yang melambangkan kebahagiaan.

Baca juga: Kopi Flores jadi Minuman Resmi Side Event Presidensi G20 di Labuan Bajo, Berikut Alasannya


Menurut Ketua Program Desain Mode Universitas Maranata Bandung sekaligus Ketua Tim Riset Batik Lasem, Yosepin Sri Ningsih, pemilihan motif bunga peony merepresentasikan harapan bahwa pada gelaran G20 akan terjadi kolaborasi yang membawa kebahagiaan demi terciptanya dunia yang lebih baik.

Batik Lasem dipilih karena sejak lama batik tersebut sudah ditinggalkan. Salah satu alasan utamanya adalah sulitnya akses menuju Lasem.

Padahal, batik Lasem adalah salah satu batik pertama di Indonesia. "(Oleh karena itu) mungkin bisa jadi perhatian juga agar tempat ini bisa lebih diakses sehingga para pebatik (Lasem) ini bisa tetap bertahan dan lestari," ucap Yosepin.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Batik Lasem Disiapkan Jadi Suvenir TWG G20", Klik untuk baca: https://travel.kompas.com/read/2022/09/20/130700527/batik-lasem-disiapkan-jadi-suvenir-twg-g20.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved