Goa Jomblang di Gunungkidul Yogyakarta Dipromosikan sebagai Wisata Minat Khusus

Pengelola objek wisata di sejumlah tempat mulai melirik objek wisata minat khusus untuk menambah jumlah kunjungan wisatawan.

KOMPAS.COM/MARKUS YUWONO
Situasi di dalam Gua Jomblang, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. KOMPAS.COM/MARKUS YUWONO 

TRIBUNKALTIMTRAVEL.COM, YOGYAKARTA - Pengelola objek wisata di sejumlah tempat mulai melirik objek wisata minat khusus untuk menambah jumlah kunjungan wisatawan.

Peluang wisata minat khusus ini cukup terbuka lebar, karena rata-rata objek wisata baru sehingga membuat penasaran turis

Melihat beberapa sisi positif itu, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), akan gencar mempromosikan wisata minat khusus.

Baca juga: Dampak Kenaikan Harga BBM Terhadap Pariwisata di Gunungkidul Akan Terlihat pada Akhir Pekan

Bupati Gunungkidul Sunaryanta mengatakan, Gunungkidul memiliki berbagai potensi alam yang sebagian sudah dikembangkan untuk wisata. Salah satunya Goa Jomblang di Padukuhan Jetis, Kalurahan Pacarejo, Semanu.

"Bahkan, saya tadi berenang di sungai bawah tanahnya. Airnya segar sekali. Ada sensasi tersendiri saat berenang di dalam goa," kata Sunaryanta ditemui di sekitar gua Jomblang, Selasa (13/9/2022).

Goa yang memiliki kedalaman sekitar 60 meter dan ada hutan purba yang pohonnya jarang ditemui di atas menjadi daya tarik tersendiri.

Baca juga: BBM Naik, Pengusaha Sektor Pariwisata Gunungkidul Dilema, Naikkan Tarif atau Bertahan, Ini Risikonya

Sebelum memasuki goa Pengunjung diberikan peralatan single rope technique (SRT) untuk menuruni gua.

Sejumlah penarik disiapkan pengelola agar wisatawan bisa turun. Sensasi bergelantung di atas tali sekitar 3 menit untuk menuruni dasar goa memang butuh nyali.

Namun, sensasi melihat bebatuan dan pohon sepanjang perjalanan membayar lunas rasa was-was.
Sesampainya di dasar goa, dua pemandu sudah siap menyambut dan melepas tali.

 

Hutan Purba di Dasar Goa Jomblang

Saat didasar gua, terdapat pohon yang ribuan tahun lalu berada di permukaan.

Karena proses geologi amblesnya tanah, sejumlah tanaman yang saat ini tak ditemukan dipermukaan, ada didasarnya.

Salah satu pemandu mengajak berjalan melewati hutan kecil dan di sana ditunjukkan buah seperti cabai yang hingga kini belum diketahui jenisnya.

Baca juga: Banyak Wisatawan dari Jatim dan Jateng, Tiket Pesawat Mahal tak Pengaruhi Kunjungan ke Gunungkidul


Perjalanan terus berlanjut menuju ke dalam goa, melewati jalanan becek dan harus menggunakan penerangan. Saat akan sampai di Luweng Grubug, terdengar suara sungai bawah tanah yang cukup deras.

Makin lama, perjalanan akan muncul cahaya yang berasal dari lubang Luweng Grubug. Pada saat tertentu, sinar matahari masuk dan sering disebut Sinar Surga.

"Keindanhan alam di bawah sangat luar biasa. Saya juga sempat bertemu dengan beberapa turis asing di dalam," kata Sunaryanta.

 

Goa Jomblang Masih Perlu Perbaikan

Ia mengakui masih banyak yang harus dibenahi dari Gua Jomblang sebagai tempat wisata.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved