BBM Naik, Pengusaha Sektor Pariwisata Gunungkidul Dilema, Naikkan Tarif atau Bertahan, Ini Risikonya

Bahan Bakar Minyak  mempengaruhi hampir seluruh lini kehidupan masyarakat. Makanya ketika harga BBM naik, semua sektor teriak, termasuk pariwisata.

KOMPAS.COM/MARKUS YUWONO
Pengunjung memadati kawasan wisata, Pantai Kukup, Gunungkidul, DIY, Rabu (4/5/2022). KOMPAS.com/MARKUS YUWONO 

TRIBUNKALTIMTRAVEL.COM, YOGYAKARTA - Bahan Bakar Minyak  mempengaruhi hampir seluruh lini kehidupan masyarakat. Makanya ketika harga BBM naik, semua sektor teriak, termasuk pariwisata.

Padahal dunia pariwisata belum pulih benar usai dihantam pandemi Covid-19, kini dihadapkan lagi dengan harga BBM yang kembali naik.

Ikut menaikkan tarif atau bertahan? Keduanya punya risiko tersendiri. Dilema pengusaha.

Baca juga: Kebiasaan Isi BBM Sampai Penuh, Justru Bikin Mobil Cepat Rusak, Ini Penjelasannya

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) berdampak pada banyak sektor, tak terkecuali sektor Pariwisata.

Di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), misalnya, salah satu dampak yang paling terasa adalah kenaikan ongkos perjalanan.

"Dapat kabar dari beberapa biro wisata, jika ada perubahan harga pada tiket angkutan darat," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Gunungkidul, Sunyoto saat dihubungi wartawan, Minggu (4/9/2022).

Diakuinya, situasi ini cukup sulit bagi pelaku wisata. Sebab, selama dua tahun terdampak pandemi, sektor pariwisata hingga kini masih belum stabil.

Kini, para pelaku wisata harus bersiap menghadapi efek domino terkait kenaikan harga BBM pada transportasi, biaya perjalanan, atau paket wisata. Selain itu, tarif untuk penginapan dan harga menu makanan di restoran juga berpotensi terdampak.

Baca juga: Menggunakan BBM Oktan Tinggi, Tidak Selalu Baik untuk Mesin Mobil


Menurut Sunyoto, agak sulit untuk melakukan penyesuaian tarif, mengingat daya beli sebagian masyarakat usai terdampak pandemi juga belum stabil.

"Agak sulit untuk menaikkan tarif hingga harga menu, mengingat daya beli masyarakat juga belum stabil," kata Sunyoto.

Meski menyayangkan keputusan menaikkan harga BBM di tengah situasi pandemi yang belum stabil, Sunyoto mengaku memahami langkah pemerintah yang juga tengah menghadapi kesulitan dalam pengelolaan anggaran.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul M Arif Aldian mengatakan belum ada rencana dalam waktu dekat akan ada kenaikan retribusi masuk kawasan wisata, sebagai imbas kenaikan harga BBM.

Namun, ia mengatakan kajian terkait penyesuaian harga sudah dilakukan.

"Masih dilakukan kajian, yang nanti kami koordinasikan bareng-bareng dengan dinas terkait. Termasuk pengaturan wilayah kawasan, nantinya titik-titik layanan," kata Arif.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Harga BBM Naik, Sektor Pariwisata Gunungkidul Bingung Naikkan Tarif", Klik untuk baca: https://travel.kompas.com/read/2022/09/04/180208627/harga-bbm-naik-sektor-pariwisata-gunungkidul-bingung-naikkan-tarif.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved