Terbersih Ketiga di Dunia, Desa Penglipuran di Bali Mulai Terapkan e-ticket untuk Pengunjung

Pulau Bali berkali-kali meraih prestasi mengagumkan, baik di level daerah, nasional hingga internasional atau tingkat dunia.

SHUTTERSTOCK / GODILA
Masyarakat Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali. Desa yang pernah dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih dunia ini kini menerapkan sistem tiket elektronik atau e-ticket untuk tiket masuk pengunjung.(SHUTTERSTOCK / GODILA) 

TRIBUNKALTIMTRAVEL.COM - Pulau Bali berkali-kali meraih prestasi mengagumkan, baik di level daerah, nasional hingga internasional atau tingkat dunia.

Dalam banyak hal, torehan prestasi ini sangat membanggakan atau mengagumkan. Dengan torehan ini Bali sebagai salah satu tujuan wisata terbaik akan semakin banyak dikunjungi.

Karena sudah mendunia maka penerapan teknologi tak dapat dielakkan. Rekayasa teknologi menjadi keharusan.

Baca juga: Mulai 1 September 2022 Batik Air Terbangi Rute Bali-Labuan Bajo Pergi-Pulang

Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, kini menerapkan sistem tiket elektronik atau e-ticket untuk tiket masuk pengunjung.

Dikutip dari Tribun Bali, sistem e-ticket mulai diterapkan oleh destinasi yang pernah dinobatkan sebagai desa terbersih ketiga di dunia oleh Green Destinations Foundation ini sejak 21 Agustus 2022.

Saat ini, pelaksanaan sistem tersebut masih dalam tahap adaptasi.

"Untuk sementara kami masih fokus ke tunai dulu. Tapi, per tanggal 1 September, kami akan mulai alihkan ke pembayaran nontunai.

Walaupun, tidak menutup kemungkinan kami masih menerima sistem pembayaran tunai," ujar Manajer Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, Selasa (23/8/2022), seperti dikutip Tribun Bali.

Baca juga: Pulau Bali Kalahkan Las Vegas dan Barcelona, Jadi Destinasi Liburan Paling Bahagia di Dunia 2022

Sistem e-ticket menggunakan beberapa pola pembayaran, seperti tunai, elektronik, debit, dan kartu kredit.

Adapun harga tiket masuk Desa Penglipuran masih sama seperti sebelumnya, seperti juga tercantum pada situs resminya.

Harga tiket masuk wisatawan domestik adalah Rp 15.000 per orang untuk dewasa dan Rp 10.000 untuk anak.

Sementara itu, harga tiket masuk wisatawan asing Rp 30.000 per orang untuk dewasa dan Rp 25.000 untuk anak.

Baca juga: Meluncur dengan Bus dari Jakarta ke Bali, Harga Lebih Murah Dibanding Naik Pesawat


Kendala Tiket Manual

Menurut Sumiarsa, manajemen telah diberi latihan untuk sistem baru ini. "Sistem ini tidak begitu rumit, jadi anak-anak milenial mudah memahami," tuturnya.

Ia mengatakan, Desa Penglipuran sebelumnya masih menggunakan sistem tiket manual. Namun, sistem itu dianggap kurang fleksibel dalam hal rekapitulasi jumlah pengunjung dan pendapatan per hari.

Sebab, jumlah pengunjung baru bisa didapatkan setelah kunjungan ditutup. Proses rekapitulasi juga butuh waktu lama dan rawan terjadi salah hitung.

"Yang paling riskan itu di ticketing. Ada kalanya kertas tiket ini menempel, sehingga saat penghitungan di akhir terjadi selisih antara jumlah uang dan tiket yang terjual," kata Sumiarsa.

Sistem Elektronik Lebih Efektif dan Transparan

Jumlah pengunjung dan pemasukan juga relatif bisa diketahui secara real time atau langsung dari layar monitor. Hal ini juga dapat meminimalisasi terjadinya pemberian tiket berlebih.

"Karena dengan sistem e-ticket, pengunjung hanya menerima bukti pembayaran saja, tidak lagi menggunakan tiket sobek," kata dia.

Terapkan e-tiket. Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali. Desa ini pernah dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih dunia ini kini menerapkan sistem tiket elektronik atau e-ticket untuk tiket masuk pengunjung. (SHUTTERSTOCK / GODILA)
Terapkan e-tiket. Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali. Desa ini pernah dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih dunia ini kini menerapkan sistem tiket elektronik atau e-ticket untuk tiket masuk pengunjung. (SHUTTERSTOCK / GODILA) (SHUTTERSTOCK / GODILA)
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved