Sedekah Laut Akan Menjadi Daya Tarik Baru Wisata Daerah, Harus Diagendakan Pemerintah

Tradisi atau kebiasaan warga di sejumlah daerah sangat berpotensi menjadi tujuan wisata yang menarik banyak pengunjung. Tentu jika dikemas dan dipromo

SITUS PEMERINTAH KABUPATEN KENDAL
Contoh kapal yang akan dilarung saat pelaksanaan tradisi sedekah laut di Kendal. SITUS PEMERINTAH KABUPATEN KENDAL 

TRIBUNKALTIMTRAVEL.COM  - Tradisi atau kebiasaan warga di sejumlah daerah sangat berpotensi menjadi tujuan wisata yang menarik banyak pengunjung. Tentu jika dikemas dan dipromosikan dengan baik.

Tradisi unik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. 

Banyak aspek penunjang yang dapat dimanfaatkan warga seperti mnyediakan kebutuhan calon wisatawan, sesuai dengan objek wisata setempat

Baca juga: Warga Desa Tegallalang Bali Diharap Pertahankan Kelestarian dan Kesakralan Tradisi Ngerebeg

Tradisi pesta laut atau juga dikenal sebagai sedekah laut atau nyadran di Kabupaten Kendal diupayakan dapat menjadi agenda wisata daerah.

Dikutip dari Tribun Jateng, (13/08/2022), Pj Sekretaris Daerah Kendal, Sugiono mengungkapkan, sedekah laut akan menjadi agenda rutin tahunan bagi warga pesisir Kendal.

Ia berharap, menjadikan sedekah laut agenda rutin tahunan bisa membantu melestarikan tradisi turun-temurun tersebut sekaligus menjadikannya daya tarik pariwisata baru.

Utamanya, agenda tersebut dilakukan di perairan Tawang, Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, sebagai perkampungan nelayan terbesar di Kabupaten Kendal.

"Event ini juga melibatkan pelaku kesenian, budaya, sampai UMKM. Selanjutnya bisa dijadikan agenda wisata untuk memajukan pariwisata Kendal, karena antusiasme masyarakat begitu tinggi," ujarnya, seperti dikutip Tribun Jateng.

Baca juga: Tradisi Unik Ngangklang di Jawa Tengah, Membangunkan Warga untuk Sahur dengan Macam Alat Musik

Adapun tahun ini, seperti dijelaskan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kendal, Hudi Sambodo, peringatan sedekah laut dilangsungkan secara meriah di tujuh wilayah.

Ia meyakini masyarakat perkampungan dapat berkomitmen menjaga kebersihan lingkungan, termasuk bergotong-royong menjaga agar lingkungan tersebut tetap dalam keadaan bersih.

Hudi turut menyelipkan pesan untuk menjaga keberlangsungan ekosistem laut dengan menggunakan alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan.

"Jika mencari ikan, jangan sampai menggunakan alat yang tidak ramah lingkungan. Apalagi di Gempolsewu ini ada lebih dari 1.300 nelayan. Nantinya bisa juga dijadikan agenda nasional, karena merupakan perkampunga nelayan terbesar di Kabupaten Kendal," tuturnya.

 

Melarung Miniatur Kapal

bupati kendal ikut tradisi sedekah laut
Bupati Kendal Mirna Anissa saat mengikuti tradisi sedekah laut pada Oktober 2016. SITUS PEMERINTAH KABUPATEN KENDAL

Dikutip dari situs Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, sedekah laut sudah menjadi tradisi sejak ratusan tahun lalu.

Meski begitu, ritual ini sebetulnya tak hanya dilakukan di daerah Tawang, Kecamatan Rowosari saja, melainkan di beberapa daerah pesisir pantai Jawa, baik pantai utara maupun pantai selatan.

Namun, setiap daerah memiliki ciri khas tradisinya masing-masing. Sedekah laut di Tawang dilaksanakan setiap setahun sekali, tepatnya bulan Muharam atau bulan Suro pada penanggalan Jawa.

Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT dari para nelayan atas berkah melimpah berupa hasil laut dan keselamatan selama melaut.

Puncak sedekah laut biasa dilaksanakan pada hari Jumat. Meskipun, beberapa hari sebelumnya lingkungan sekitar sudah banyak dikunjungi. Kemeriahannya pun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Baca juga: Orang Muda Ndora Parade Nyiru dan Menanak Nasi di Priuk Tanah, Kembalikan Tradisi Orang Nagekeo NTT

Acara puncak diisi dengan pelarungan sesaji ke laut, serta diiringi acara hiburan lainnya.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved