Pelaku Usaha Setuju Konservasi, Tolak Tarif Masuk TN Komodo Rp 3,75 Juta, Sandiaga Ajak Diskusi

massa menolak kenaikan tarif masuk ke Pulau Komodo dan menyampaikan rasa kecewa terhadap sikap Bupati Manggarai Barat yang disebut mendukung program

Zintan Prihatini/KOMPAS.com
Wisatawan datang ke Pulau Komodo yang merupakan salah satu kawasan Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur. Zintan Prihatini/KOMPAS.com 

TRIBUNKALTIMTRAVEL.COM - Suatu kebijakan atau keputusan sering atau bahkan selalu mengundang perdebatan atau pro-kontra dari pihak-pihak yang terkait atau berkepentingan.

Penetapan tarif masuk atau biaya konservasi di Taman Nasional Komodo juga mengundang perdebatan antara pemangku kepentingan atau otoritas dengan masyarakat setempat.

Namun apapun itu, kepentingan yang lebih besar yang diutamakan. Sehingga perlu ada komunikasi atau diskusi yang yang intens agar tercapai tujuan yang diharapkan.

Baca juga: Kadis Pariwisata NTT Sebut Kenaikan Tarif Masuk Taman Nasional Komodo tak Ganggu UMKM di Labuan Bajo

Pada Jumat (29/7/2022), bersamaan dengan peresmian biaya konservasi Pulau Komodo, Padar, dan perairan sekitar, di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT diwarnai aksi protes sejumlah pelaku usaha pariwisata setempat.

Sebagaimana diberitakan Kompas.com sebelumnya (29/7/2022), massa menolak kenaikan tarif masuk ke Pulau Komodo dan menyampaikan rasa kecewanya terhadap sikap Bupati Manggarai Barat yang disebut mendukung program tersebut.

"Tuntutan kami masih yang sama, terkait tiket ini jangan dinaikkan. Kalau konservasi kita sepakat, tetapi kalau tiket Rp 3,75 juta kami jelas menolak karena ini sangat mengganggu," ujar salah satu peserta aksi, John Daniel di Labuan Bajo, Jumat.

Menurut dia, kebijakan kenaikan tarif masuk itu sangat merugikan perekonomian masyarakat sekitar Pulau Komodo

pulau padar juga indah dipandang
Pulau Padar merupakan salah satu wilayah di Taman Nasional Komodo yang akan diterapkan pembatasan pengunjung. Zintan Prihatini/KOMPAS.com


Menanggapi hal ini, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno kembali menegaskan bahwa pemberlakuan biaya konservasi sebesar Rp 3,75 juta tersebut hanya akan diterapkan di Pulau Komodo, Pulau Padar, dan Kawasan Perairan sekitarnya saja.

Sandiaga menambahkan, wisatawan masih bisa melihat komodo dengan habitat aslinya tanpa kenaikan harga masuk di kawasan Pulau Rinca yang sudah ditata dengan baik oleh pemerintah.

"Untuk masyarakat yang ingin melihat komodo, disediakan kawasan Pulau Rinca yang tidak ada kenaikan harganya sama sekali," kata Sandiaga dalam Weekly Press Briefing ssecara daring, Senin (1/8/20222).

Baca juga: Belum Ada Pembahasan, Sandiaga Uno Sebut Tarif Konservasi Pulau Komodo Rp 3,75 Juta Baru Wacana

 

Ajak Pelaku Usaha Wisata NTT Diskusi

Selanjutnya, Sandiaga juga mengatakan, pihaknya membuka kesempatan diskusi bersama bagi para pelaku usaha wisata NTT, untuk mencari solusi terbaik dari kenaikan harga masuk Pulau Komodo.

"Kami membuka peluang diskusi, mencari solusi bagi para pelaku parekraf, dan itu sudah dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Vinsensius Jemadu dan Dirut Dirut BPOLBF Shana Fatina," tuturnya.

Ia memastikan semua masukan dalam diskusi itu nantinya akan ditampung untuk dibahas bersama dalam lintas kementerian dan lembaga.

"Kita akan pastikan semua masukan dan aspirasi dari masyarakat akan ditampung," ujar Sandiaga.

Ia melanjutkan bahwa nantinya lintas kementerian lembaga bersama KLHK, Pemprov NTT akan melaporkan ke forum yang lebih tinggi lagi untuk terus memastikan bahwa upaya konservasi dan upaya meningkatkan ekonomi bisa dilakukan beriringan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pelaku Wisata Demo Tarif Pulau Komodo, Menparekraf Ajak Diskusi", Klik untuk baca: https://travel.kompas.com/read/2022/08/01/210100427/pelaku-wisata-demo-tarif-pulau-komodo-menparekraf-ajak-diskusi.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved