Jangan Salah Paham! Surakarta dan Solo Satu Kota Dua Nama, Berikut Sejarahnya

Saat ini banyak orang mengira Kota Surakarta mempunyai wilayah yang berbeda dengan Kota Solo

SHUTTERSTOCK/LANO LAN
Ilustrasi Monumen Patung Slamet Riyadi di Jalan Slamet Riyadi, Kota Solo. SHUTTERSTOCK/LANO LAN 

TRIBUNKALTIMTRAVEL.COM - Saat ini banyak orang mengira Kota Surakarta mempunyai wilayah yang berbeda dengan Kota Solo.

Nama yang sama-sama populer di tengah masyarakat dan menyejarah. Dari sana pula Presiden Joko Widodo berasal.

Kota Surakarta adalah Kota Solo. Kedua nama ini memiliki satu wilayah teritorial.

Secara administrasi pemerintah menggunakan nama Surakarta. Sedangkan kota Solo digunakan dalam pergaulan sehari-hari.

Kota Surakarta merupakan kota budaya yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Terdapat Keraton Surakarta yang merupakan istana dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sekaligus obyek wisata budaya.

Kota Surakarta kerap disebut dengan nama Kota Solo oleh sebagian masyarakat. Bahkan, ada sejumlah masyarakat yang mengira bahwa dua kota tersebut merupakan wilayah yang berbeda.

Lantas, apa perbedaan Solo dan Surakarta? Ternyata, keduanya memiliki sejarah yang berbeda seperti dirangkum oleh Kompas.com berikut ini.

 

Sejarah Kota Surakarta

Sebelum mengetahui perbedaan Solo dan Surakarta, terlebih dulu kita perlu memahami kelahiran Kota Surakarta. Mengutip Kompas.com (3/7/2021), kelahiran Kota Surakarta tidak lepas dari sejarah berdirinya Keraton Surakarta.

Sejarah berdirinya Keraton Surakarta berkaitan dengan Kerajaan Mataram Islam. Kerajaan Mataram Islam sempat mengalami beberapa kali pemindahan ibu kota.

Saat Amangkurat II naik takhta, pusat pemerintahan dipindahkan ke daerah Wanakerta, yang kemudian disebut dengan Kartasura.

Pemindahan ini disebabkan pemberontakan yang dipimpin oleh Trunojoyo.

Namun, pada 1743 terjadi peristiwa Geger Pecinan yang berdampak pada kehancuran Keraton Kartasura.

Peristiwa tersebut dipicu oleh pemberontakan etnis Tionghoa lantaran Pakubuwono II, yang kala itu memimpin Keraton Kartasura, dinilai berpihak kepada Belanda.

Kemudian, Pakubuwono II memerintahkan pemindahan keraton dari Kartasura ke Desa Sala. Desa Sala dipilih karena beberapa faktor, tetapi utamanya karena posisinya yang dekat dengan Sungai Bengawan Solo.

Secara resmi, Keraton Surakarta di Desa Sala mulai ditempati pada 17 Februari 1745, meskipun pembangunannya belum selesai sepenuhnya.

Pakubuwono II mendiami keraton sampai hari wafatnya, yaitu pada 1749. Setelah peristiwa yang dikenal sebagai bedol keraton ini, wilayah Desa Sala berkembang pesat hingga menjadi kota seperti saat ini.

 

Sejarah Nama Kota Solo

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved