Di Arab Saudi, Orang yang Bangunkan Sahur di bulan Ramadan Dibayar dan Jadi Pekerjaan, Seperti Apa?

Imbalannya berupa uang, hadiah, permen, dan doa untuk Idul Fitri dari masyarakat yang dibangungkan sahurnya.

Editor: Geafry Necolsen
Istimewa
Membangunkan orang sahur, imbalannya berupa uang, hadiah, permen, dan doa untuk Idul Fitri dari masyarakat yang dibangungkan sahurnya. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Keramaian di waktu sahur pada bulan Ramadan di Indonesia sudah jadi sebuah tradisi yang lekat dengan bulan puasa.

Jika tiba waktu sahur, akan ada sekelompok orang yang akan berkeliling sambil memukul beduk untuk membangunkan sahur.

Namun, di masa pandemi, tradisi ini tak bisa dilakukan karena tidak diperbolehkan untuk membuat kerumunan.

 

Jika pun masih ada, tradisi tersebut tidak akan dilakukan dengan ramai orang.

Nah, ternyata tradisi semacam ini tak hanya ada di Indonesia, lho!

Tradisi membangunkan sahur di bulan Ramadan ini juga eksis di Arab Saudi.

Bedanya, kegiatan membangunkan sahur di Arab Saudi itu merupakan sebuah pekerjaan yang pelakunya dibayar.

Seorang mesaharati membangunkan orang untuk sahur saat bulan Ramadan.
Seorang musaharati membangunkan orang untuk sahur saat bulan Ramadan. (Gulf Life)

Nama tradisi itu adalah Musaharati, pekerjaan yang tugasnya berjalan sambil memukul gendang di pemukiman penduduk untuk membangunkan umat Muslim makan sahur.

Di Provinsi Syarqiyah, pekerjanya disebut dengan nama Abu Tabila.

Orang dewasa dan anak-anak sering mengintip dari jendela untuk menyaksikan Abu Tabila lewat dengan memukul genderangnya yang kecil sambil merapalkan doa.

Tak jarang, mereka ikut keluar untuk menemani Abu Tabila sekaligus memeriahkan momentum sahur secara bersama-sama.

Mengutip touregypt.net, anak-anak tersebut membantu Abu Tabila menabuh genderang dan berseru "Es ha ya nayem wahed el dayem. Karim Ramadan ha ya nayem wahed el razaq."

Seruang itu memiliki arti "Bangunlah, oh lebih cepat dan puji Allah. Selamat datang untukmu Ramadan, bulan pengampunan."

Abu Tabila memulai kegiatan ini tepat pukul 03.00 pagi dan menabuh drumnya sebanyak 3 kali setelah chantingnya.

Ia pergi dari rumahnya dan berjalan ke hampir setiap rumah di lingkungan tersebut.

Ketika ia mencapai setiap rumah, ia berdiri di depannya dan memanggil nama penghuninya.

Biasanya, karena tugasnya membangunkan orang, Abu Tabila membuat begitu banyak suara sehingga ia bisa didengar hingga beberapa blok ke segala arah.

Pekerjaan Musaharati sendiri merupakan salah satu tradisi Ramadan tertua di Al-Ahsa, dan setiap kota memiliki Abu Tabila-nya sendiri.

Abu Tabila akan menggeluti bisnisnya itu sampai akhir Ramadan.

Imbalannya berupa uang, hadiah, permen, dan doa untuk Idul Fitri dari masyarakat yang dibangungkan sahurnya.

Ilustrasi sahur
Ilustrasi sahur (The PeepSpot)
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved