Gulo Puan, Kuliner Khas Palembang yang Langka, Dulu Jadi Favorit Bangsawan

Kuliner khas Palembang mungkin yang langsung terlintas adalah pempek. Namun, pernahkah kamu mendengar kata gulo puan?

Editor: Geafry Necolsen
Istimewa
Kuliner khas Palembang mungkin yang langsung terlintas adalah pempek. Namun, pernahkah kamu mendengar kata gulo puan? 

Gulo Puan, Kuliner Khas Palembang yang Langka, Dulu Jadi Favorit Bangsawan

TRIBUNTRAVEL.COM - Berbicara soal kuliner khas Palembang mungkin yang langsung terlintas adalah pempek.

Namun, pernahkah kamu mendengar kata gulo puan?

Jika belum, maka hal tersebut wajar karena gulo puan merupakan kuliner khas Palembang yang sudah mulai langka.

 

Nama gulo puan sendiri diambil dari bahasa masyarakat sekitar, gulo yang berarti gula, sedangkan puan adalah susu.

Baca juga: Pempek Saga Mampir dan 6 Kuliner Malam di Kota Palembang

Baca juga: Tidak Hanya di Palembang, Pempek Juga Jadi Makanan Khas Daerah Lain

Disebut demikian karena bahan baku utama gulo puan memang berasal dari perpaduan antara gula dan susu kerbau.

Gulo Puan, Simanis Legit yang Langka

Kuliner khas Palembang, gulo puan memang tidak sepopuler pempek, tekwan atau yang lainnya.

Hal ini disebabkan oleh gulo puan sendiri sudah mulai langka karena bahan bakunya yang sulit ditemukan.

 

Seperti yang sudah disebutkan di atas, gulo puan terbuat dari gula dan susu yang dimasak hingga menjadi karamel.

Susu kerbau inilah yang membuat kudapan gulo puan sangat langka dan harganya mahal.

Sebab, susu kerbau yang digunakan tidak sembarangan melainkan berasal dari kerbau rawa.

Kerbau rawa semacam ini hanya bisa ditemui di kawasan rawa di Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Baca juga: Apa Bedanya Pempek Jami dengan Pempek Bangka dan Palembang?

Di kawasan tersebut terdapat sebuah desa yang menjadi produsen gulo puan satu-satunya di Palembang, yaitu Desa Pulo Layang.

Produksi gulo puan ini bergantung penuh pada peternakan kerbau rawa di Pulo Layang.

Ditambah dengan kondisi musim juga akan sangat berpengaruh pada produksi susu yang dihasilkan kerbau rawa itu sendiri.

Biasanya produksi susu kerbau akan melimpah saat musim hujan, karena pada saat ini pakan kerbau akan sangat melimpah.

Tidak hanya itu proses pembuatan gulo puan juga masih sangat tradisional dan memakan waktu cukup lama.

Yaitu mula mula kerbau rawa dicampurkan dengan gula, kemudian dimasak menggunakan api kecil.

Campuran gula dan susu kerbau rawa tersebut selanjutnya harus diaduk terus menerus selama lima jam sampai menjadi karamel.

Gulo puan yang sudah masak tersebut menjadi berwarna cokelat, bertekstur lembut namun sedikit berpasir.

Tidak hanya manis, rasa gulo puan juga ada sedikit gurih dan sering disebut sebagai keju manisnya Indonesia.

Gulo puan biasanya dinikmati untuk campuran minum kopi, teh atau olesan roti dan pisang goreng.

Warga menyajikan gulo puan bersama penganan kecil di pusat pembuatan gulo puan di Desa Pulo Layang, Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Jumat (13/2/2015). Makanan olahan tradisional Sumatera Selatan berbahan susu kerbau rawa dan gula yang kini langka ini juga biasa disajikan bersama teh atau kopi.
Warga menyajikan gulo puan bersama penganan kecil di pusat pembuatan gulo puan di Desa Pulo Layang, Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Jumat (13/2/2015). Makanan olahan tradisional Sumatera Selatan berbahan susu kerbau rawa dan gula yang kini langka ini juga biasa disajikan bersama teh atau kopi. (KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM)

Gulo puan yang diolah secara tradisional ini sangat sulit untuk ditemukan dan harganya mahal.

Biasanya gulo puan hanya dijual oleh beberapa pedagang kaki lima di waktu tertentu saja, yaitu sekitar waktu shalat Jumat di Masjid Agung Kota Palembang.

Atau terkadan dijual di Pasar 26 Ilir Palembang pada Sabtu dan Minggu dengan harga sekitar Rp 100.000 per kilogram (kg).

Favoritnya Bangsawan Zaman Dulu

Berbicara soal cerita zaman dahulu, konon kudapan gulo puan ini menjadi favoritnya para bangsawan di Kesultanan Palembang Darrussalam.

Pada masa itu gulo puan bahkan menjadi semacam upeti dari masyarakat Pampangan, Ogan Komering Ilir (OKI) kepada Sultan Palembang.

Kemudian seiring berkembangnya zaman, gulo puan mulai dikenal masyarakat luas dan menjadi kudapan khas yang hanya bisa ditemui di Palembang.

Meskipun begitu, gulo puan masih terbilang sebagai kuliner langka dan sulit didapatkan.

Keberadaanya yang sangat sedikit membuat kudapan gulo puan punya harganya selangit dan tidak bisa didapat sembarang orang.

Bahkan gulo puan sampai sekarang masih diidentikkan sebagai makanannya para bangsawan Palembang.

Sehingga meberikan kesan bahwa gulo puan termasuk makanan sangat mewah sehingga menjadi gulo puan sangat mahal harganya.

Penulis: Zainiya Abidatun Nisa'
Editor: Geafry Necolsen

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved