Awas, Kecanduan Belanja Online Bisa Jadi Tanda Gangguan Mental

Kemajuan teknologi membuat segala hal terasa lebih mudah, termasuk dalam belanja, memesan barang dan jasa, hingga membeli makanan sehari-hari.

Editor: Geafry Necolsen
istimewa
Ilustrasi, belanja online 

Awas, Kecanduan Belanja Online Bisa Jadi Tanda Gangguan Mental

TRIBUNKALTIM.CO - Kemajuan teknologi membuat segala hal terasa lebih mudah, termasuk dalam belanja, memesan barang dan jasa, hingga membeli makanan sehari-hari.

Bagi kebanyakan orang, kemudahan berbelanja secara online ini juga bisa menghemat waktu dan tenaga.

Namun, tak sedikit orang yang pada akhirnya berbelanja tidak berdasarkan kebutuhan, tetapi juga keinginan dan kemudahan. Misalnya, tawaran diskon dari berbagai platform berbelanja yang membuat kita semakin tergiur memesan barang tersebut meski sebetulnya tidak butuh.

Jika kamu termasuk orang yang kecanduan belanja online, bahkan melakukannya sebagai kegiatan harian, berhati-hatilah karena kamu mungkin menderita gangguan mental.

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Comprehensive Psychiatry mencatat bahwa dari 122 orang yang mengalami ‘buying-shopping disorder (BSD)’ atau gangguan pembelian-belanja, 34 persen di antaranya juga memiliki gejala kecanduan belanja online.

Para peneliti studi juga menemukan bahwa mereka yang kecanduan belanja online cenderung menderita depresi dan kecemasan.

Menurut penelitian, BSD ditandai dengan kesenangan ekstrem dengan keinginan untuk membeli/berbelanja, serta keinginan yang tak tertahankan untuk memiliki barang-barang konsumsi.

Pasien-pasien BSD membeli lebih banyak barang-barang konsumsi daripada yang mereka lebih mampu. Barang-barang yang dibeli juga seringkali tidak diperlukan atau tidak sering digunakan.

Para peneliti yang berasal dari Hannover Medical School, Jerman, mengusulkan agar BSD ditetapkan sebagai kondisi kesehatan mental tersendiri.

Studi tersebut juga menekankan bahwa BSD terjadi pada sekitar 5 persen orang dewasa di negara-negara berkembang.

Menekankan hal serupa, psikoterapis di Hannover Medical School, Dr Müller mengatakan, ini adalah saatnya BSD dipisahkan dari kondisi kesehatan mental lainnya dan perlu ada pengetahuan lebih mengenai BSD yang disampaikan melalui internet.

BSD, terutama yang dilakukan melalui pengisian formulir online, bisa mengakibatkan lingkaran hasrat ekstrem untuk membeli barang-barang dan mendapatkan kepuasan ketika menghabiskan uang.

Karena pecandu belanja kemungkinan besar memiliki kecenderungan untuk menimbun barang, mereka seringkali menimbulkan kekacauan.

Mereka kerap menghabiskan uang melebihi jumlah yang bisa mereka bayar sehingga hal itu seringkali menimbulkan kesusahan yang ekstrem.

Lalu, apa saja gejala kecanduan belanja online? Berikut gejala-gejala klasiknya:

1. Berbelanja ketika merasa marah atau frustrasi.

2. Tidak memiliki kontrol terhadap kebiasaan berbelanja.

3. Memiliki konflik dengan orang-orang terdekat akibat perilaku belanja mereka.

4. Merasa bersalah dan malu setelah pelesiran berbelanja, dan

5. Mengalami kecemasan dan euforia saat berbelanja.

Nah, apakah kamu pernah merasakan gejala di atas?

Penulis : Nabilla Tashandra
Editor : Geafry Necolsen

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved