Kuliner

Asal Usul Gudeg, yang Jadi Ciri Khas Kota Jogja

Gudeg merupakan kuliner yang terbuat dari nangka muda dengan campuran santan dan rempah-rempah.

Editor: Geafry Necolsen
Instagram/david_koeswoyo
Gudeg merupakan kuliner yang terbuat dari nangka muda dengan campuran santan dan rempah-rempah. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Kota Jogja punya satu kuliner ikonik dan begitu melekat yakni gudeg.

Gudeg merupakan kuliner yang terbuat dari nangka muda dengan campuran santan dan rempah-rempah.

Tak heran jika kuliner khas Jogja ini selalu menjadi buruan warga lokal maupun wisatawan yang berkunjung.

Ada yang bilang jika istilah gudeg diberikan oleh prajurit Mataram hingga salah satu orang Inggris yang tinggal di Jawa, tepatnya di Yogyakarta.

Baca juga: Gudeg Yogyakarta Mbah Lindu yang Legendaris, Pernah Didokumentasikan Netflix

Baca juga: Rekomendasi Kuliner 8 Gudeg Enak di Solo, Salah Satunya Langganan Presiden

 
tribunnews
Setya Utomo atau dikenal mbah Lindu saat berjualan Gudeg di jalan Sosrowijayan Kota Yogyakarta (KOMPAS.com/ Wijaya kusuma)

Prajurit Mataram

Melansir laman Kompas.com, seorang Ahli Gizi Pusat Makanan Tradisional Universitas Gajah Mada (UGM), Murdijati Gardjito menjelaskan bahwa gudeg sudah ada sejak Yogyakarta pertama di bangun atau sejak 1819-1820.

Sekaligus menjadi masakan merakyat di Jawa, termasuk Yogyakarta.

Sekitar abad ke-16, prajurit Kerajaan Mataram mebuka hutan belantara yang terletak di Kotagede untuk pembangunan kerajaan.

Dalam hutan tersebut terdapat banyak pohon nangka dan kelapa.

Karena jumlah prajurit cukup banyak, maka nangka dan kelapa dimasak dalam jumlah yang banyak.

Proses memasaknya disebut hangudek, artinya mengaduk.

Dari kata tersebutlah tercipta nama makanan dengan sebutan gudeg.

"It's good, dek"

Versi lain penyebutan gudeg juga diceritakan dalam buku Indonesia Poenja Tjerita (2016) karya Sejarah RI.

Konon pada zaman penjajahan Inggris, seorang warga negara Inggris menikah dengan perempuan Jawa dan menetap di Yogyakarta.

Warga negara Inggris tersebut selalu memanggil istrinya dengan sebutan 'dek'.

Suatu hari sang istri teringat akan resep turun-temurun keluarganya untuk memasak menggunakan bahan nangka muda.

Sepulang kerja, si suami yang merasa senang dengan masakan sang istri langsung melahap makanan dengan bahan nangka muda dan santan kelapa tersebut.

Selesai makan, suami tersebut berkata dengan keras, "good, dek. It's good, dek."

Merasa tekejut, sang istri kemudian bercerita ke tetangga dan teman-temannya bahwa suaminya senang dengan masakan resep turun-temurun tersebut.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved