Traveling

Di Jepang, Ada Larangan Makan Sambil Berjalan untuk Warganya dan Berlaku Juga Pada Turis

Kebiasaan baik masyarakat ini tercermin dalam beragam aturan baik yang tertulis maupun yang tak tertulis. Oleh sebab itu, sebelum berwisata ke Jepang,

Editor: Geafry Necolsen
Japantimes
Kebiasaan baik masyarakat ini tercermin dalam beragam aturan baik yang tertulis maupun yang tak tertulis. Oleh sebab itu, sebelum berwisata ke Jepang, Anda perlu mempelajari beragam peraturan ini. 

Oleh sebab itu sebagai pendatang, Anda dianjurkan untuk menghormatinya. Inilah sebabnya beberapa tujuan wisata di negara ini sudah mulai meminta turis untuk berhenti makan sambil berjalan.

Salah satu tempat tersebut adalah Pasar Nishiki, atau dikenal penduduk setempat sebagai dapur Kyoto.

Pasar ini menawarkan lebih dari 120 toko yang menjual kyasai atau semacam sayuran khas, ikan segar, atau sayuran acar, serta toko-toko yang menjual makanan yang mudah dimakan sambil berjalan-jalan di gang-gang yang sempit dan ramai.

Selain berpotensi menimbulkan sampah, ada alasan lain yang menjadi perhatian utama otoritas setempat. Beberapa camilan yang dilengkapi semacam tusuk sate dari tempat ini beresiko melukai orang lain apabila tak dibuang dengan benar.

Tak hanya itu, makan sambil berjalan di daerah ramai dikhawatirkan dapat mengotori pakaian orang lain yang tak sengaja menabraknya.

“Dalam upaya untuk mengatasi masalah ini, asosiasi telah meminta toko sejak Oktober lalu untuk menampilkan tanda-tanda yang mengatakan, 'Tidak makan sambil berjalan' dalam bahasa Jepang, Inggris, Cina dan Korea,” ujar otoritas setempat kepada The Japan Times.

Sebaliknya, pengunjung disarankan untuk memakan makanan mereka di toko tempat makanan itu dibeli. "Kami ingin menjadikan jalan ini tempat di mana wisatawan dan penduduk dapat merasa nyaman," tandasnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved