Tips dan Trik

Banyak Jenis Minyak Goreng Beredar di Pasaran, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ketika Anda memasak menggunakan panas tinggi, Anda tentu ingin menggunakan minyak yang stabil dan tidak mudah teroksidasi maupun cepat berbau tengik.

Editor: Geafry Necolsen
Shutterstock
Dengan ragam pilihan tak berujung dari produk minyak goreng di pasaran, rasanya mudah untuk bingung dan kewalahan 

Ikatan ganda inilah yang bisa memberikan reaksi kimia dan sensitif terhadap panas, sehingga membentuk aldehida dan peroksida lipid saat terpapar oleh suhu panas yang sangat tinggi.

Mengonsumsi atau menghirup aldehida dan peroksida lipid, bahkan dalam jumlah kecil, terkait oleh peningkatan risiko penyakit jantung dan kanker.

Sebagai gambaran, di bawah ini adalah perbedaan antara minyak goreng yang mengandung tiga jenis lemak, dilansir dari WebMD:

1. Lemak jenuh (saturated fat)
Contoh: mentega, lemak babi, margarin, minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak safflower, minyak biji sawit

Ciri fisik: padat dalam kondisi suhu ruangan

Makanan yang tinggi akan lemak jenuh telah dikaitkan terhadap penyumbatan arteri, yang kemudian meningkatan kadar kolesterol dan risiko penyakit jantung.

Beberapa jenis minyak goreng di atas memiliki kadar lemak jenuh yang sangat tinggi, bahkan melebihi sumber lemak jenuh dalam daging.

Sosis
Sosis (Shutterstock)

2. Lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fat)
Contoh: minyak canola, minyak biji bunga matahari, minyak kacang walnut

Ciri fisik: cair, bahkan jika disimpan dalam lemari pendingin

Dilansir dari BBC, menurut penelitian Martin Grootveld dan tim dari Leicester School of Pharmacy dari De Montfort University di Leicester, minyak yang tinggi akan kandungan minyak tak jenuh ganda, seperti minyak jagung dan minyak biji bunga matahari, menghasilkan kadar tinggi aldehida.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved