Travel Alert

Amankah Menginap di Hotel Saat Pandemi? Ini Kata Ahli

Untuk menghilangkan rasa jenuh, sebagaian orang memilih pergi ke luar kota dan sebagian lainnya memilih staycation di hotel di dalam kota.

Editor: Geafry Necolsen
Kompas
Untuk menghilangkan rasa jenuh, sebagaian orang memilih pergi ke luar kota dan sebagian lainnya memilih staycation di hotel di dalam kota. 

Amankah Menginap di Hotel Saat Pandemi? Ini Kata Ahli

TRIBUNTRAVEL.COM - Untuk menghilangkan rasa jenuh, sebagaian orang memilih pergi ke luar kota dan sebagian lainnya memilih staycation di hotel di dalam kota.

 

Namun amankah pergi berlibur di tengah pandemi Covid-19 yang angka kasusnya masih tinggi?

Ahli epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman mengatakan, pergi ke luar kota saat ini seharusnya belum dapat dilakukan.

Ia memahami jika banyak masyarakat yang sudah merasa jenuh tinggal di rumah, tapi Dicky mengingatkan, pandemi Covid-19 di Indonesia belum terkendali dengan baik.

Baca juga: Tips Agar Aman Menggunakan Transportasi Umum Saat Pandemi Covid-19

Baca juga: Tips Aman Saat Bepergian Naik Pesawat di Tengah Pandemi Covid-19

tribunnews
Ilustrasi tamu yang membuka pintu kamar hotel yang diinapi (Gambar oleh ming dai dari Pixabay)

“Kondisinya masih jauh dari normal. Meski pemerintah mengatakan kasus menurun, ini bukan sesuatu yang bisa dianggap aman. Karena dari hasil tes, positivity rate-nya masih di atas 10 persen selama hampir empat bulan terakhir. Ini berarti penyebarannya masih tinggi,” kata Dicky saat dihubungi Kompas Sains.

Dicky menyarankan, bagi masyarakat yang ingin pergi berlibur, sebaiknya memilih destinasi di dalam kota saja, untuk mencegah penyebaran virus corona.

“Kunci untuk menekan angka penyebaran virus corona itu 2M+3M, membatasi mobilitas, ini artinya sebisa mungkin tidak berpergian, membatasi interaksi, serta terapkan protokol kesehatan, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan,” sambungnya.

Menurutnya staycation (liburan di sekitar area tempat tinggal) di hotel di dalam kota saat ini bisa jadi pilihan aman, ketimbang berkumpul ramai-ramai di rumah keluarga di luar kota.

Dengan catatan memilih hotel yang memiliki dan menerapkan safety plan Covid-19, mulai dari melakukan pemesanan kamar via online, membatasi kapasitas jumlah tamu yang menginap di hotel, mengatur jumlah tamu hotel yang masuk ke dalam lift, membersihkan dan mendisinfeksi kamar hotel, dan sebagainya.

Dicky menegaskan, untuk kondisi saat ini, hindari makan buffet (prasmanan) selama staycation di hotel.

Sehingga saat memilih hotel, perlu dipastikan lebih dulu pada pihak hotel apakah memungkinkan untuk mengantar sarapan ke kamar.

“Memang akan lebih merepotkan bagi pihak hotel, tapi ini demi keselamatan bersama. Makan buffet di restoran hotel memungkinkan interaksi dengan orang lain, entah itu berpapasan, bersenggolan atau bahkan antre dalam jarak dekat," ujar Dicky yang pernah menjadi tim pengendalian wabah flu burung di Indonesia beberapa tahun lalu.

"Selain itu kita kan juga harus menghindari penggunaan barang bersama,” imbuhnya.

Sedangkan bagi yang ingin memanfaatkan fasilitas kolam renang di hotel, Dicky juga mengingatkan untuk memerhatikan kapasitas kolam renang dan area sekitarnya.

Pasalnya, meski virus corona tidak menyebar melalui air, kondisi kolam renang yang ramai memungkinkan penyebaran virus corona melalui droplet.

Apalagi, saat berenang, orang tak akan memakai masker.

“Hotel seharusnya juga membuat kebijakan soal ini. Misalnya dibuat ketentuan, jam sekian untuk penghuni kamar di lantai sekian. Sehingga kapasitasnya bisa sangat dibatasi,” katanya.

Lalu, apakah kamar hotel aman dari kontaminasi virus corona?

Menurut Dicky, harus ada jeda waktu yang memadai untuk membersihkan kamar, mengganti seprei dan handuk dengan yang baru, serta mendisinfeksi kamar, sebelum tamu hotel berikutnya masuk ke dalam kamar.

Selain itu, penting untuk membuka semua jendela di kamar saat proses pembersihan, sehingga ada pergantian udara untuk meminimalisir potensi penyebaran virus corona.

“Memang ada banyak hal yang harus diperhatikan secara mendetil oleh pihak hotel. Ini juga seharusnya dimonitor secara berkala oleh pemerintah daerah dan diberi sanksi bagi pihak yang abai,” lanjutnya.

“Tetapi jika safety plan Covid-19 dijalankan, semua kebutuhan bisa diadopsi dengan tetap meminimalisir penyebaran virus corona,” pungkas Dicky.

Penulis: Ratna Widyawati
Editor: Geafry Necolsen

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved