Travel Alert

Pandemi Covid-19, Amankah Bepergian Naik Pesawat?

Kasus penumpang pesawat yang ternyata positif covid-19 di Indonesia terus terulang. Seberapa aman naik pesawat saat pandemi?

Editor: Geafry Necolsen
Antara
Ilustrasi. Kasus penumpang pesawat yang ternyata positif covid-19 di Indonesia terus terulang. Seberapa aman naik pesawat saat pandemi? 

Pandemi Covid-19, Amankah Bepergian Naik Pesawat?

TRIBUNKALTIM.CO - Kasus penumpang pesawat yang ternyata positif covid-19 di Indonesia terulang kembali.

Pada awal Juni lalu, dua orang penumpang Pesawat diketahui positif covid-19 setelah menjalani tes swab saat tiba di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Sumatera Barat.

Itu bukan satu-satunya kasus, belum lama ini penumpang pesawat Batik Air juga kedapatan positif covid-19.

Selengkapnya Baca Artikel Ini:

 Terbang dari Jakarta - Kalimantan, 6 Penumpang Batik Air Positif Virus Corona

 Seluruh Awak Kabin Garuda Diisolasi, Buntut Lolosnya Penumpang Positif Corona

 Sudah Kantongi Surat Rapid Test, Dua Penumpang Pesawat dari Jakarta Diketahui Positif Covid-19

Penumpang Wanita Terinfeksi COVID-19, Diduga karena Gunakan Toilet Pesawat

Kasus seperti ini tak hanya ditemukan di Indonesia.

Di beberapa negara, untuk penerbangan internasional, kasus yang sama pernah terjadi.

Di Indonesia, untuk meminimalisasi risiko, salah satu syarat melakukan perjalanan baik kereta api maupun Pesawat terbang, harus membawa hasil tes covid-19, bisa rapid test atau swab test.

Namun, sejumlah daerah ada yang mewajibkan pendatang membawa hasil tes swab, bukan rapid test.

Akan tetapi, ditemukannya penumpang positif covid-19 bisa naik Pesawat, kembali memunculkan pertanyaan seberapa aman naik Pesawat di tengah pandemi virus Corona?

Dikutip dari BBC, Jumat (26/6/2020), sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Emory University, Atlanta, melakukan permodelan bagaimana penumpang dan kru bergerak saat Pesawat terbang serta bagaimana pengaruhnya pada transmisi penyakit menular.

Dari permodelan itu, para peneliti menyimpulkan bahwa penyakit infeksi pernapasan yang menyebar oleh tetesan (aerosol) tidak mungkin ditularkan secara langsung lebih dari satu meter dari penumpang yang terinfeksi.

"Dengan demikian, penularan dibatasi pada satu baris di depan atau di belakang penumpang yang terinfeksi," kata para peneliti.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebelumnya telah mengeluarkan aturan terkait kapasitas angkut transportasi publik.

Ilustrasi penumpang duduk di dalam kabin pesawat terbang
PENUMPANG POSITIF CORONA - Ilustrasi penumpang duduk di dalam kabin pesawat terbang (skift.com)

Dalam aturan itu, Pesawat dapat menampung penumpang antara 70-100 persen dari kapasitas angkut, tergantung jenis armadanya.

Jika Pesawat menampung 100 persen penumpang, maka tak ada jarak antar penumpang.

Bertentangan dengan penelitian itu, riset sebelumnya menunjukkan bahwa penumpang dengan SARS atau influenza berpotensi menginfeksi sejumlah orang di luar area mereka.

Sebab, penularan itu terjadi saat naik atau turun dari Pesawat setelah menyentuh permukaan yang terkontaminasi, bukan karena menghirup tetesan orang yang terinfeksi.

Simulasi juga menunjukkan bahwa awak kabin dapat menyebabkan beberapa infeksi baru karena pergerakan mereka dan melakukan banyak kontak dengan penumpang yang berbeda.

Sementara itu, pejabat kesehatan masyarakat di Kanada, mengatakan, mereka tidak menemukan kasus infeksi lebih lanjut setelah dua penumpang rute Guangzhou-Toronto positif covid-19.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved