Destinasi Wisata

Mata Air Panas di Balik Batuan Gunung Tikukur Masih Misteri, Jadi Berkah Bagi Warga

Banyak pengunjung berdatangan dari luar untuk melihat langsung dari dekat, apalagi keberadaan mata air panas ini diyakini menyembuhkan penyakit.

Editor: Geafry Necolsen
Tribun Jabar
Kemunculan mata air panas di balik bebatuan Gunung Tikukur, Cipanas, masih menyimpan misteri. Namun keberadaan mata air panas ini justru membawa berkah bagi warga setempat. 

Mata Air Panas di Balik Batuan Gunung Tikukur Masih Misteri, Jadi Berkah Bagi Warga

TRIBUNKALTIM.CO, CIPATAT- Kemunculan mata air panas di balik bebatuan Gunung Tikukur, Kampung Cipanas, Kabupaten Bandung Barat, sempat menghebohkan warga sekitar.

Beberapa kali peneliti datang ke lokasi mata air panas tersebut, namun keberadaannya masih menyimpan misteri.

Pasalnya, selama ini Gunung Tikukur diketahui bukan sebagai gunung berapi.

Karena banyak pengunjung berdatangan dari luar untuk melihat langsung dari dekat, apalagi keberadaan mata air panas ini diyakini warga setempat bisa menyembuhkan beberapa penyakit, salah satunya gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya. 

Mata air panas muncul dari dalam bebatuan Gunung Tikukur tepatnya di Gunung Tikukur, Kampung Cipanas, Desa Rajamandala, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat yang hingga kini masih misteri keberadaannya.

Banyak peneliti sudah beberapa kali mengunjungi lokasi keberadaan air panas tersebut untuk bahan penelitian.

Menurut warga setempat, Supiatin (47), penelitian tersebut juga belum banyak mengetahui sumber air panas tersebut berasal dari mana.

"Banyak peneliti yang datang kesini. Bebatuan dan sumber air panas juga diteliti, tapi masih misteri karena itu rahasia alam," ujar Supiatin di lokasi, Minggu (2/8/2020).

Namun dikatakan Supiatin, kebaradaan air panas yang tak tahu berasal dari mana itu sebagai penanda atau dimaknai untuk rezeki masyarakat.

Kini sumber air panas itu, dijadikan lokasi pemandian bagi masyarakat luar kampung itu untuk berobat berbagai penyakit seperti penyakit kulit dan stroke.

"Alhamdulillah, ya air panas ini sebagai perantara saja, dan sudah ada khasiatnya bisa sembuh penyakit gatal-gatal, jadi tempat pengobatan untuk warga luar," ucapnya.

Soal akses, lokasi Pemandian Cipanas Rajamandala ini, letaknya masuk ke kawasan PLTA Saguling. Sekitar dua kilometer dari gerbang PLTA Saguling, keberadaan air panas itu di sebelah kiri.

Dari gapura pintu masuk air panas itu sekitar 500 meteran melewati warung-warung dan pemandian.

Saat Tribun Jabar berkesempatan melihat sumber air panas itu ditutup selembar seng oleh warga sekitar.

Ketua RW 1, Sulayro (63) memperlihatkan kondisi sumber mata air Cipanas itu, yang hingga kini, warga sekitar pun tak tahu asal muasal munculnya air panas tersebut.

Sumber air panas itu berada di atas dua pohon yakni pohon randu dan pohon beringin.

Bebatuan karang pun terlihat di lokasi kawasan pemandian air panas tersebut.

Sulayro mengatakan ia pun masih bingung keberadaan air panas itu, lantaran Gunung Tikukur bukan gunung berapi.

"Ya kan gunung Tikukur ini katanya bukan gunung aktif atau gunung berapi, tapi kuasa Pencipta bisa ada sumber air panas itu," tuturnya.                  

Supiatin menambahkan ia yang asli warga sini, sempat merasakan tradisi sekitar lokasi sumber air panas yang sering datang ke sini selalu melakukan ritual memberikan sesajen dan tradisi lempar koin ke dalam sumber mata air panas tersebut.

"Yang warga yang ingin berendam di sini selalu nginap, sebelum aksesnya sudah bagus seperti ini, jadi harus nginap tapi harinya harus ganjil, terus tradisi itu sekarang enggak ada karena faktor modernisasi," ucapnya.

Sementara itu, warga yang berniat ingin berendam di air panas Rajamandala ini tiket masuk dibandrol sebesar Rp 2.000 dan harga parkir motor Rp 1.000.

Kini sumber air panas itu sebagai mata pencaharian warga sekitar. (*)

Sumber: Tribun Kaltim

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved