Tips dan Trik

Depresi Selama Karantina Pandemi COVID-19? Ini Saran Psikiater

Jika Anda merasa depresi akibat pembatasan sosial selama pandemi COVID-19, Anda tidak sendiri.

HelloSehat
Menghadapi stres 

Depresi Selama Karantina Pandemi COVID-19? Ini Saran Psikiater

TRIBUNKALTIM.CO – Jika Anda merasa depresi akibat pembatasan sosial selama pandemi COVID-19, Anda tidak sendiri.

Menurut sebuah laporan terbaru, permintaan obat antidepresan selama pandemi melonjak hampir 19%. Panggilan kepada psikolog atau psikiater dari orang-orang yang mengalami depresi, kecemasan, dan yang memiliki keinginan untuk bunih diri telah meningkat.

Jika Anda menghadapi hal serupa, berikut beberapa cara yang bisa memperbaiki suasana hati di tengah suasana tidak menentu ini, menurut Daniel Amen, M.D, seorang pskiater.

Cara Mengatasi Anak Bosan di Rumah saat Pandemi Corona, Berikut Tipsnya

Liburan Cuma di Rumah? Usir Rasa Bosan dengan 5 Kegiatan Seru Ini

Pikiran negatif

Otak manusia dirancang untuk memiliki negativitas—itu membantu kita bertahan hidup. Dimulai dari nenek moyang yang hidup di gua dan waspada terhadap makhluk yang bisa membunuh mereka. Namun, saat ini bukan waktu yang tepat untuk berkubang dalam pikiran yang menakutkan dan menyedihkan.

Tahukah Anda? Setiap berpikir tentang sesuatu, otak kita akan melepaskan beberapa senyawa? Menurut studi, rata-rata manusia memiliki 60 ribu pikiran per hari, membuat senyawa kimia membanjiri sistem otak.

“Ketika memiliki pikiran yang menyedihkan, putus asa, dan tidak berguna, otak melepaskan senyawa yang membuat kita merasa buruk. Sebaliknya, pikiran yang bahagia, penuh harap dan cinta, akan membuat perasaan kita membaik,” papar Amen.

Berpikir positif

Untuk memicu pelepasan senyawa kimia yang membuat diri merasa baik, kita harus secara aktif mencari hal-hal positif di tengah pembatasan sosial.

Menurut Amen, ada beberapa pertanyaan yang bisa diberikan kepada diri sendiri untuk membantu:

  • Apa hal baik yang didapat dari tinggal di rumah?
  • Apakah Anda senang tidak harus bermacet-macetan atau berdesakan di dalam transportasi umum untuk pergi ke kantor?
  • Apakah Anda memiliki waktu untuk belajar sesuatu yang baru?
  • Apakah Anda memiliki waktu lebih banyak untuk dihabiskan bersama keluarga atau hewan peliharaan?

Selain itu, pastikan untuk selalu mengisi hari-hari Anda dengan hal-hal positif. Misalnya, di pagi hari, bisa mengatakan kepada diri sendiri:

“Hari ini akan menjadi hari yang baik!”. Dan ketika ingin tidur, bisa bertanya kepada diri sendiri: “Apa hal baik yang didapat hari ini?”.

Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu memperbaiki suasana hati Anda. Namun, jika Anda mengalami gejala depresi yang berkepanjangan, segera hubungi profesional.

Ikuti kami di
Editor: Server
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved