Traveling

Cerita Gowes Rute Bekasi-Bandung-Jogja, Dengan Sepeda Brompton Tipe Explore

Berpakaian lengkap bersepeda dan helm berkeliling Kota Bekasi. Broder memiliki budaya geseran yaitu gowes sambil cari sarapan.

Editor: Geafry Necolsen
Tribunnews
FAJAR Tri Widianto (40) mendirikan komunitas Brompton Riders Bekasi (Broder) atas kesukaannya menggunakan Brompton, sepeda lipat legendaris asal London, Inggris. 

Cerita Gowes Rute Bekasi-Bandung-Jogja, Dengan Sepeda Brompton Tipe Explore

TRIBUNKALTIM.CO, BEKASI - Semenjak pandemi covid-19 atau Corona menerpa negara Indonesia, warga masyarakat mulai mengalihkan gaya hidup. 

Biasa menggunakan sepeda motor atau mengandalkan kendaraan bermotor lainnya, kini mulai banyak orang sudah mengalihkan aktivitas geraknya menggunakan sepeda kayuh. 

Satu contohnya di Bogor, ada kumpulan orang-orang yang gandrung memakai sepeda, jumlah penggunanya semakin banyak sejak wabah Corona atau covid-19.  

 

Ia pun rela merogoh kocek puluhan juta demi kenyamanan dalam bersepeda.

Berpakaian lengkap bersepeda dan helm berkeliling Kota Bekasi. Broder memiliki budaya geseran yaitu gowes sambil cari sarapan.

Fajar bercerita awal mula didirikannya Broder yaitu tempat berkumpul antarsesama pengguna sepeda
yang harganya selangit itu.

Biasanya setiap Minggu pagi, Fajar bersepeda bersama sejumlah anggota Broder menggunakan Brompton.

Di antara mereka ada yang rela merogoh kocek, mulai dari puluhan juta sampai seratusan juta rupiah untuk memiliki sepeda Brompton.

Fajar, misalnya, menggunakan Brompton Explore Edition yang harganya mencapai puluhan juta rupiah.

Ia memilih menggunakan sepeda buatan pabrik yang didirikan oleh Andrew Ritchie itu karena praktis
dan cocok untuk aktivitas dinamis.

 

"Brompton ini punya keasyikan sendiri untuk gowes jarak jauh ataupun jarak dekat. Saya pernah
menempuh rute Bekasi-Yogja, Bekasi-Malang, Bekasi-Bandung. Sejauh 254 kilometer nonstop. Memang
enak dan nyaman,” ujar Fajar kepada Tribunnews.com, Jumat (3/7/2020).

Fahar memilih jenis explore karena suka touring jarak jauh dan suka camping.

SEPEDA BROMPTON buat traveling jarak jauh.
SEPEDA BROMPTON buat traveling jarak jauh. (mainsepda.com)

“Jenis explore itu sudah dilengkapi tas, barang-barang yang dibutuhkan untuk camping, sudah satu paket,"tambah Fajar.

Kini, komunitas yang berdiri sejak 2017 itu sudah memiliki 196 anggota, kebanyakan dari mereka
berdomisili di Bekasi.

Berikut petikan wawancara Tribunnews Network dengan Fajar Tri Widianto.

Sejak kapan mengendarai sepeda terutama Brompton?

Sudah tiga tahun. Awal main sejak 2017. Saat itu orang masih belum banyak yang pakai (Brompton).

Bagaimana Anda melihat tren sepeda yang kembali diminati masyarakat terutama saat pandemi
covid-19?
Saya secara pribadi senang. Orang sudah mulai sadar akan pentingnya kesehatan.

Tak hanya karena banyak orang yang pakai Brompton, tapi banyak orang yang bersepeda itusudah buat saya senang sih.
Jadi kan bisa mengurangi polusi, terus jadi gaya hidup sehat juga sih sebenarnya.

Kemenhub berencana membuat regulasi soal sepeda, apa harapannya?

Harusnya sih sepeda menurut saya justru dikasih intensif, karena kami bersepeda membantu
mengurangi kemacetan, mengurangi polusi. Sekarang kurang tepat kalau dikenakai pajak.

Ya ke depannya harus ada regulasi yang lebih bagus. Kami sebagai pesepeda bjsa lebih diperhatikan, kami
bayar pajak tapi yang didapat untuk kami juga ada.

Komunitas Broder ini kapan dibentuk dan apa yang melatarbelakanginya?

Sejarah Broder itu terbentuk pada 1 September 2017. Broder itu singkatan dari Brompton Riders Bekasi.
Kami penyuka Brompton, awalnya suka gowes jauh, long distance cycling. Broder itu untuk
mengakomodir sepeda-sepeda yang memakai Brompton di area Bekasi.

Banyak teman-teman suka Brompton tapi gowes sendiri-sendiri. Nah Broder itu untuk mengakomodir.

Tentu positif saling bantu kalau ada kesulitan terkait Brompton.

Ada even kami bisa kumpul sesama pesepeda Brompton. Broder juga kekeluargaan, jadi lebih guyub,
persaudaraan lebih kuat.

Apa saja kegiatan rutin komunitas Broder?

Pada Minggu biasanya kami kumpul sebelum sarapan. Setelah kumpul kami gowes bareng sejauh 20
kilometer, habis itu sarapan bareng. Terus kita kumpul finish di area Kedai Kopi Bakar.

Total anggota sudah 196 orang. Dari anak muda, perempuan, sampai yang tua juga ada. Itu Bekasi dan
beberapa di luar Bekasi.

Kami juga ada kegiatan sosial, bikin donasi dari beberapa anggota, lalu kita berikan bagi mereka yang
belum beruntung di masa pandemi ini. Kami juga ada even tahunan. Ada Bejo, Jamal, Made.

Bejo itu touring Bekasi-Yogya, pada 2018, khusus Brompton. Pada 2019 kami lanjutkan ke Malang.
Intinya kami dari Jawa Barat sampai Jawa Timur kami selesaikan.

Yogya-Malang itu Jamal. Harusnya di 2020 dari Malang sampai Denpasar. Tapi karena Covid-19 semua
harus ditunda.

Seberapa sulit mendapatkan Brompton?

Sekarang Brompton di Bekasi tidak ada. Kami mungkin di Luar Bekasi. Kalau untuk tipe explore itu masih
kisaran Rp 60 juta-Rp 70 juta. Kalau chapter 3, kisaran Rp 80 juta-Rp 100 juta.

Mengapa harus Brompton yang harganya fantastis?
Satu, praktis dan dinamis. Pada saat kita capek, tinggal dilipat, terus masukin mobil. Memang merek-
merek selain Brompton bisa juga.

Cuma Brompton ini punya keasyikan sendiri untuk gowes jarak jauh ataupun jarak dekat.

Mengapa saya pakai yang explore karena saya suka touring, ada satu varian Brompton yang dibuat
khusus untuk jarak jauh. Saya suka long distance, saya juga suka camping. Whole packages explore itu
memang dibuat camping, gunung.

Apa tips dan trik bersepeda jarak jauh?

Saya sudah pernah menempuh rute Bekasi - Jogja ( Yogyakarta ), Bekasi - Malang, Bekasi - Bandung. Sejauh 254 kilometer non-stop. Tipsnya, stamina harus dijaga.

Selain bersepeda saya suka jogging. Selain itu latihan bersepeda secara bertahap. Tidak bisa tiba-tiba
langsung jarak jauh. Lebih baik pelan-pelan. Gowes jarak jauh cairan tubuh harus terus dijaga. 

Sumber: Tribun Kaltim

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved