Belanja

Shopaholic Bisa Terjadi Pada Anak, Begini Cara Mencegahnya

Sama sebagaimana dengan orang dewasa, anak yang shopaholic cenderung menyembunyikan sifat kecanduannya.

Shutterstock
Ilustrasi: Anak belanja sendiri 

Shopaholic Bisa Terjadi Pada Anak, Begini Cara Mencegahnya

TRIBUNKALTIM.CO, TRAVEL - Ketika berbelanja, otak melepaskan hormon endorfin dan dopamin yang membuat Anda senang.

Hal ini yang dapat menyebabkan kecanduan belanja yang kemudian disebut dengan shopaholic. Tidak hanya pada orang dewasa, anak pun bisa mengalami shopaholic.

Bila orang dewasa shopaholic saja bisa merasa kerepotan, tentu tidak jauh berbeda dengan anak. Jadi, apa gejala shopaholic dan bagaimana mencegah anak shopaholic?

Tanda-tanda anak shopaholic atau kecanduan belanja

Biasanya, shopaholic bakal berhadapan dengan masalah keuangan akibat kecanduan belanja yang sulit dikontrol. Jika anak yang mengalami shopaholic, tentu akan sangat membebani keuangan orangtua.

Salah satu tanda yang dapat Anda kenali jika si kecil sudah mulai mengalami kecanduan belanja yaitu anak cenderung berbohong untuk bisa mendapatkan barang yang diinginkan. 

Alasannya, sama sebagaimana dengan orang dewasa, anak yang shopaholic cenderung menyembunyikan sifat kecanduannya.

Selain itu, tanda-tanda dari shopaholic yang juga dapat dikenali, seperti:

  • Menginginkan barang hanya karena tidak puas dengan barang yang dibeli sebelumnya.
  • Menginginkan barang lebih dari yang dibutuhkan.
  • Menginginkan belanja hanya untuk mencari kesenangan.

Tips mencegah anak shopaholic

Untuk mencegah anak shopaholic sejak awal, berikut tips yang bisa Anda lakukan sebagai orangtua:

Jadilah contoh yang baik

Seorang anak memang tidak terlepas dari orangtuanya. Hal-hal yang dilakukan orangtua menjadi contoh bagi anak dalam bersikap.

Dalam hal ini, bila Anda tidak menginginkan anak Anda kecanduan belanja, maka jangan jadikan diri Anda sebagai seorang yang kecanduan belanja.

Bila Anda membelanjakan uang dengan mudah maka anak Anda juga akan bersikap sama.

Oleh karena itu, mulailah untuk bersikap bijak dan tidak menghamburkan-hamburkan uang dalam belanja. Jangan jadikan belanja sebagai suatu kesenangan belaka, tetapi sebagai suatu kebutuhan.

Bila Anda memberikan contoh yang baik bagaimana belanja itu dilakukan, maka anak Anda pun akan bersikap yang sama. Anak Anda juga akan mulai belajar bahwa tidak selamanya yang dia inginkan bisa dibeli.

Tanyakan kepada anak alasan membeli barang

belanja makanan bersama anak
belanja makanan bersama anak (net)

Hal ini mungkin bisa menjadi salah satu cara mencegah anak yang shopaholic. Anda bisa tanyakan kepada anak mengapa dia ingin membeli barang tersebut.

Doronglah anak Anda untuk memberikan alasan yang tepat, yaitu karena dia memang membutuhkannya, bukan sekadar menginginkan.

Hal ini bisa mengajarkan anak Anda bahwa dia harus memiliki alasan yang baik bila menginginkan barang yang baru.

Minta anak untuk ikut membayar barang yang dibeli

Cobalah meminta anak untuk ikut membayar barang yang diinginkannya, misal dengan memotong uang saku anak. Dengan demikian, anak akan lebih selektif dalam berbelanja.

Hindari belanja sebagai cara untuk menjalin ikatan dengan orangtua

Jangan jadikan belanja sebagai cara untuk menjalin ikatan (bonding) antara anak dengan orangtua.

Bila terus menerus dilakukan, anak akan terbiasa dan menilai belanja menjadi hal yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang dan menimbulkan kesenangan hingga bisa mengakibatkan kecanduan.

Carilah kegiatan keluarga lain untuk dilakukan bersama.

Ajarkan penggunaan barang sesuai dengan keperluan

Jangan hanya membeli barang karena brand loyalty atau hanya terpaku pada satu merek. Belilah suatu barang karena barang tersebut memang dinilai baik dan diperlukan.

Bahkan bila perlu belilah barang dengan merek lokal. Ajarkan kepada anak bahwa barang bermerek atau tidak bermerek sama saja.

Beri pemahaman tentang iklan produk yang dilihat di media

Ajarkanlah kepada anak Anda bahwa tidak selamanya iklan di media, seperti televisi, harus ditelan mentah-mentah.

Beri tahu anak bahwa iklan di televisi untuk mencari cara menarik orang agar membeli produk mereka. Untuk memutuskan memberi produk tersebut atau tidak, harus tetap berdasarkan kebutuhan.

Ikuti kami di
Editor: Server
Sumber: Tribun Kaltim
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved