Travel Alert

Kasus Penumpang Positif Covid-19 Terulang Lagi, Seberapa Aman Naik Pesawat Saat Pandemi?

Akibatnya, 90 penumpang dalam penerbangan itu diimbau untuk menjalani karantina mandiri selama dua minggu.

Editor: Geafry Necolsen
istimewa
Pemeriksaan kesehatan terhadap penumpang pesawat 

Kasus Penumpang Positif Covid-19 Terulang Lagi, Seberapa Aman Naik Pesawat Saat Pandemi?

TRIBUNKALTIM.CO - Seorang penumpang Pesawat Garuda Indonesia rute Jakarta-Sorong diketahui positif terinfeksi virus Corona.

Kepastian itu diketahui ketika petugas mendapati dokumen yang dikeluarkan oleh Laboratorium Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menunjukkan hasil pemeriksaan penumpang itu positif covid-19.

Akibatnya, 90 penumpang dalam penerbangan itu diimbau untuk menjalani karantina mandiri selama dua minggu.

Sebelumnya, pada awal Juni lalu, dua orang penumpang Pesawat diketahui positif covid-19 setelah menjalani tes swab saat tiba di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Sumatera Barat.

Kasus seperti ini tak hanya ditemukan di Indonesia.

Di beberapa negara, untuk penerbangan internasional, kasus yang sama pernah terjadi.

Di Indonesia, untuk meminimalisasi risiko, salah satu syarat melakukan perjalanan baik kereta api maupun Pesawat terbang, harus membawa hasil tes covid-19, bisa rapid test atau swab test.

Namun, sejumlah daerah ada yang mewajibkan pendatang membawa hasil tes swab, bukan rapid test.

Akan tetapi, ditemukannya penumpang positif covid-19 bisa naik Pesawat, kembali memunculkan pertanyaan seberapa aman naik Pesawat di tengah pandemi virus Corona?

Dikutip dari BBC, Jumat (26/6/2020), sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Emory University, Atlanta, melakukan permodelan bagaimana penumpang dan kru bergerak saat Pesawat terbang serta bagaimana pengaruhnya pada transmisi penyakit menular.

Dari permodelan itu, para peneliti menyimpulkan bahwa penyakit infeksi pernapasan yang menyebar oleh tetesan (aerosol) tidak mungkin ditularkan secara langsung lebih dari satu meter dari penumpang yang terinfeksi.

"Dengan demikian, penularan dibatasi pada satu baris di depan atau di belakang penumpang yang terinfeksi," kata para peneliti.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebelumnya telah mengeluarkan aturan terkait kapasitas angkut transportasi publik.

Ilustrasi penumpang duduk di dalam kabin pesawat terbang
PENUMPANG POSITIF CORONA - Ilustrasi penumpang duduk di dalam kabin pesawat terbang (skift.com)

Dalam aturan itu, Pesawat dapat menampung penumpang antara 70-100 persen dari kapasitas angkut, tergantung jenis armadanya.

Jika Pesawat menampung 100 persen penumpang, maka tak ada jarak antar penumpang.

Bertentangan dengan penelitian itu, riset sebelumnya menunjukkan bahwa penumpang dengan SARS atau influenza berpotensi menginfeksi sejumlah orang di luar area mereka.

Sebab, penularan itu terjadi saat naik atau turun dari Pesawat setelah menyentuh permukaan yang terkontaminasi, bukan karena menghirup tetesan orang yang terinfeksi.

Simulasi juga menunjukkan bahwa awak kabin dapat menyebabkan beberapa infeksi baru karena pergerakan mereka dan melakukan banyak kontak dengan penumpang yang berbeda.

Sementara itu, pejabat kesehatan masyarakat di Kanada, mengatakan, mereka tidak menemukan kasus infeksi lebih lanjut setelah dua penumpang rute Guangzhou-Toronto positif covid-19.

Padahal, penerbangan ini mengangkut 350 penumpang dan berlangsung selama 15 jam.

Filter udara Pesawat modern Meski banyak orang berpikir bahwa duduk di ruang terbatas dalam waktu yang lama berpotensi besar akan menyebarkan virus, Kepala Insinyur Airbus Jean-Brice Dumont mengatakan, Pesawat modern memiliki cara agar udara tetap bersih.

"Setiap dua hingga tiga menit, secara matematis semua udara diperbarui. Itu berarti 20 hingga 30 kali per jam, udara di sekitarmu benar-benar diperbarui," jelas dia.

Sederhananya, udara dikumpulkan dari luar Pesawat melalui mesin dan dicampur dengan udara daur ulang dari kabin.

Untuk menjaga suhu dan kelembaban, udara daur ulang dilewatkan melalui filter HEPA (udara partikulat efisiensi tinggi) yang mirip dengan filter di rumah sakit.

Sementara, virus Corona yang berdiameter sekitar 125 nanometer berada dalam kisaran ukuran partikel yang ditangkap oleh filter.

"Filter HEPA memiliki standar, dan standar yang kami gunakan dalam penerbangan komersial termasuk di antara standar tertinggi. Mereka menyaring 99,97 % partikel (partikel kecil) dengan ukuran covid-19," kata Dumont.

Menurut dia, aliran udara juga dirancang untuk meminimalkan risiko infeksi.

Sebab, udara mengalir secara vertikal. "Itu membuat tingkat perambatan apa pun di udara sangat terbatas.

Jadi penumpang dari baris satu, misalnya, tidak dapat mencemari seseorang di baris 20," ujar dia.

Namun, aliran udara itu dapat terganggu oleh penumpang yang meninggalkan kursi atau awak kabin yang bergerak sehingga mengubah jalur partikel udara yang ada.

Sementara itu, Konsultan Virologi di Leicester Royal Infimary Dr Julian Tang, mengatakan, filter HEPA tak dapat menangkap semua tetesan covid-19 sebelum dihirup.

"Filtrasi hanya bekerja pada aliran udara massal. Sebagian besar transmisi selama perjalanan Pesawat akan menjadi percakapan tatap muka jarak pendek," kata Dr Julian.

"Transmisi aerosol jarak dekat adalah apa yang Anda harus khawatirkan di Pesawat, kereta api atau bus. Ini adalah risiko terbesar," tambah dia.

Meski berada jauh dari penumpang yang terinfeksi, risiko infeksi tak hilang begitu saja.

Sebab, covid-19 dapat bertahan di udara dalam waktu tertentu, tergantung pada berbagai faktor.

Menurut dia, beberapa tetesan yang lebih kecil bahkan bisa menyebar hingga 16 meter.

Dr Julian dan tim, menyebutkan, ada banyak bukti penularan melalui udara pada penyakit menular seperti covid-19, MERS, dan SARS.

Meski demikian, Domunt percaya bahwa tindakan pencegahan sederhana, seperti memakai masker, akan meminimalkan risiko penularan.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved