Travel Alert

Biaya Rapid Test Kemahalan, Sejumlah Penumpang Keberatan Uangnya Hanya Cukup Buat Makan

Sejumlah penumpang di Pelabuhan Bakauheni protes saat ditarik biaya rapid test Rp 300.000 per orang oleh petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan ( KKP ) Ke

Editor: Geafry Necolsen
Tribun Kaltim
ILUSTRASI - Kapal laut milik PT Pelni bersandar di kawasan Pelabuhan Semayang Balikpapan, Kalimantan Timur. (TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN) 

Biaya Rapid Test Kemahalan, Sejumlah Penumpang Keberatan Uangnya Hanya Cukup Buat Makan

TRIBUNKALTIM.CO -Sejumlah penumpang di Pelabuhan Bakauheni bisa tertahan lebih lama karena tuntutan pengelola pelabuhan agar calon penumpang membayar Rp 300 ribu untuk bayar rapid test.

Mereka keberatan karena nilai Rp 300 ribu itu terlalu mahal. Sedangkan mereka hanya buruh proyek yang selesai kontrak atau korban PHK.

Sejumlah penumpang di Pelabuhan Bakauheni protes saat ditarik biaya rapid test Rp 300.000 per orang oleh petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan ( KKP ) Kelas II Panjang, Lampung.

Hal senada juga dialami Arka Maulana, penumpang asal Pekanbaru. Dirinya mengaku tidak sanggup harus membayar rapid test tersebut. Apalagi, dirinya baru saja diberhentikan dari pekerjaannya di sebuah proyek.

"Bayar lagi Rp 300.000, mahal, Mas. Saya enggak ada uang lagi," kata Arka saat dihubungi, Sabtu (16/5/2020). Akibatnya, baik Arka maupun Ibnu terpaksa tertahan di Pelabuhan Bakauheni

Sudah Kantongi Surat Keterangan Sehat, tapi...

Berbeda dengan dua penumpang sebelumnya, seorang penumpang bernama Rahmat asal Jawa Tengah. Dirinya mengaku sudah membawa surat keterangan sehat. Tetapi, ternyata petugas meminta surat hasil rapid test bebas corona. Akibatnya, Rahmat dan puluhan rekannya yang telah diberhentikan dari proyek Jalan Tol Trans Sumatera di Riau, terpaksa membayar Rp 300.000.

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan ( KKP ) Kelas II Panjang, Lampung, R Marjunet mengatakan, biaya sebesar Rp 250.000-Rp 300.000 tersebut untuk membeli alat rapid test dari klinik swasta. Marjunet menambahkan, KKP Panjang sebetulnya hanya berwenang mengeluarkan surat klirens.

Surat klirens tersebut salah satu syaratnya adalah surat keterangan sehat dan dokumen hasil rapid test. Seperti diketahui, rapid test tersebut adalah salah satu syarat kelengkapan dokumen yang harus dimiliki penumpang untuk bisa menyeberang ke Pelabuhan Merak, Banten.

Sementara itu, terkait penarikan tersebut, Marjunet mengatakan, pihaknya hanya memfasilitasi agar tak terjadi penumpukan penumpang. "Di Pelabuhan Bakauheni sudah menumpuk penumpang, hampir 700 orang lebih, bisa berpotensi terhadap kamtibmas. Jadi pelaksana di lapangan berinisiatif agar mereka bisa menyeberang," kata Marjunet.

Sumber: Tribun Kaltim

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved