Virus Corona

Sulit Temukan Obat Efektif, WHO Ingatkan Potensi Corona Endemik Seperti HIV

Oleh karenanya, WHO mengingatkan agar masyarakat belajar hidup dengan Corona, lantaran ada kesulitan untuk menangani pandemi covid-19 ini karena sulit

Editor: Geafry Necolsen
istimewa
Ruangan ber AC sebarkan virus corona 

Sulit Temukan Obat Efektif, WHO Ingatkan Potensi Corona Endemik Seperti HIV

TRIBUNKALTIM.CO - Sulit untuk menemukan obat yang efektif, WHO ingatkan untuk belajar hidup dengan virus Corona, lantaran Corona berpotensi jadi endemik seperti HIV, yang tidak hilang.

Organisasi Kesehatan Dunia atau  WHO ( World Health Organization ) menyebut virus Corona berpotensi menjadi endemik seperti halnya HIV karena tak bisa hilang.

Oleh karenanya, WHO mengingatkan agar masyarakat belajar hidup dengan Corona, lantaran ada kesulitan untuk menangani pandemi covid-19 ini karena sulit untuk menemukan obat yang efektif.

Menurut pihaknya, virus Corona berpotensi menjadi endemik yang sama seperti HIV. Sehingga mungkin virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit pernapasan, covid-19 tidak akan menghilang.

"Penting menggarisbawahi ini, virus Corona mungkin hanya menjadi virus endemik lain di dunia ini, dan virus ini mungkin tidak akan pernah hilang."

"HIV belum menghilang, tapi kami telah sepakat virus ini juga demikian," kata anggota WHO bagian tanggap darurat, Mike Ryan, dikutip dari Al Jazeera. 

Ryan mengimbau agar publik tidak menyimpulkan kapan virus ini akan berakhir atau menghilang.

Sebab tidak ada bukti yang mendasari hal tersebut.

"Saya pikir penting bagi kita untuk realistis dan saya tidak berpikir siapapun dapat memprediksi kapan penyakit ini akan hilang."

"Saya pikir tidak ada janji dalam hal ini dan tidak ada tanggal. Penyakit ini dapat menjadi masalah yang panjang, atau mungkin tidak mungkin," katanya.

Namun, Ryan mengatakan dunia memiliki beberapa kendali untuk mengatasi penyakit ini.

Kendati demikian upaya untuk mengendalikan pandemi membutuhkan upaya yang besar meskipun vaksin telah ditemukan.

Ryan menggambarkannya dengan 'pelayaran jauh besar'.

Lebih dari 100 vaksin potensial sedang dikembangkan, termasuk diantaranya sudah memasuki tahap uji klinis.

Tetapi para ahli menggarisbawahi, menemukan pengobatan efektif untuk covid-19 sangatlah sulit.

Ryan mencontohkan vaksin campak yang sudah ada sejak lama, namun penyakit campak tetap ada hingga hari ini.

Oleh sebab itu, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengimbau agar negara-negara di dunia bahu-membahu menangani wabah ini

"Lintasan ada di tangan kita, dan itu urusan semua orang, dan kita semua harus berkontribusi untuk menghentikan pandemi ini," ujar Tedros.

Dia juga menyoroti sejumlah negara yang melonggarkan kuncian atau bahkan sudah membuka negaranya.

"Banyak negara ingin keluar dari langkah-langkah yang berbeda," kata Tedros.

"Tapi rekomendasi kami tetap waspada di negara manapun harus pada tingkat setinggi mungkin," tambahnya.

Ryan menyebut kontrol yang signifikan terhadap virus diperlukan untuk menurunkan risiko.

Dari kiri Direktur Program Health Emergencies World Health Organization (WHO) Michael Ryan, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dan WHO Technical Lead Maria Van Kerkhove menghadiri jumpa pers mengenai virus corona atau COVID-19, di kantor pusat WHO di Jenewa Swiss, Rabu (11/3/2020). Seperti halnya HIV, covid-19 disebut tak bisa hilang, organisasi kesehatan dunia, WHO ingatkan untuk belajar hidup dengan Corona, perhatikan hal ini.
Dari kiri Direktur Program Health Emergencies World Health Organization (WHO) Michael Ryan, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dan WHO Technical Lead Maria Van Kerkhove menghadiri jumpa pers mengenai virus corona atau COVID-19, di kantor pusat WHO di Jenewa Swiss, Rabu (11/3/2020). Seperti halnya HIV, covid-19 disebut tak bisa hilang, organisasi kesehatan dunia, WHO ingatkan untuk belajar hidup dengan Corona, perhatikan hal ini. (AFP/FABRICE COFFRINI)

Sebab faktanya, risiko penularan covid-19 masih tinggi baik di tingkat regional, nasional, maupun global.

Lebih dari setengah populasi umat manusia dibatasi pergerakannya sejak krisis Corona dimulai pada Januari.

Pemerintah di seluruh dunia sedang berjuang dengan pertanyaan tentang bagaimana mengembalikan perekonomian sementara virus masih mengepung.

Diketahui virus Corona telah menjangkiti 212 negara dan menginfeksi 4.429.884 penduduk dunia.

Wabah mematikan ini juga telah membunuh 298.174 orang di berbagai negara.

Di hari yang sama, Uni Eropa mendorong negara-negara terkait untuk membuka wilayahnya kembali.

Pihaknya mengatakan belum terlambat untuk menyelamatkan pariwisata di musim panas tahun ini sambil menjaga jarak sosial.

Tetapi para ahli kesehatan masyarakat khawatir dengan ide ini dan mengharuskan negara berhati-hati dalam membuka wilayah.

Ryan mengatakan membuka perbatasan darat lebih berisiko daripada mengurangi perjalanan udara.

"Kita perlu masuk ke dalam pola pikir bahwa ini akan memakan waktu untuk keluar dari pandemi ini," kata ahli epidemiologi WHO, Maria van Kerkhove.

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved