Virus Corona

Para Pemandu Wisata di Kepulauan Derawan, Kehilangan Pekerjaan dan Penghasilan karena Pandemi Corona

Nyaris tidak ada wisatawan yang datang ke Berau yang terkenal dengan objek wisata Pulau Derawan, Maratua dan sebagainya itu.

Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Geafry Necolsen
phinemo
Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur 

 

Para Pemandu Wisata di Kepulauan Derawan, Kehilangan Pekerjaan dan Penghasilan karena Pandemi Corona

TRIBUNKALTIM.CO, TRAVEL - Kabupaten Berau yang berusaha memperkuat sektor pariwisata agar tidak bergantung pada sektor pertambangan, dihantam wabah virus corona, yang membuat sektor ini nyaris lumpuh total.

Nyaris tidak ada wisatawan yang datang ke Berau yang terkenal dengan objek wisata Pulau Derawan, Maratua dan sebagainya itu.

Bukan hanya karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), wisatawan juga enggan traveling di tengah wabah virus corona. 

Di sisi lain, lesunya aktivitas pariwisata ini membuat banyak orang yang selama ini bergantung pada sektor ini, kehilangan pekerjaan dan otomatis kehilangan penghasilan selama corona mewabah.

Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Berau, berupaya memecah kebuntuan yang dialami anggotanya, yang kini kehilangan pekerjaan.

Suhartanto, Sekretaris HPI Berau mengungkapkan, banyak rekan-rekannya yang kini menganggur.

“Jadi yang mengalami dampak ini bukan hanya pedagang. Pedagang sekarang sudah bisa berdagang langsung atau online. Sementara kami betul-betul tidak ada pekerjaan, karena tidak ada wisatawan yang datang,” ungkap pria yang akrab disapa Tanto ini.

Sepi tanpa wisatawan

Beberapa rekannya sesama parmuwisata atau guide, kini ada yang banting setir menjadi pengemudi ojek online. “Teman kami yang tinggal di pulau (Maratua dan Derawan) malah hanya memancing ikan untuk makan sehari-hari,” ungkapnya.

Tanto sendiri beberapa kali menawarkan jasanya sebagai fotografer, namun larangan untuk membuat acara dengan mengundang keramaian, membuatnya sepi permintaan foto perkawinan atau yang sejenisnya.

Tanto berharap, pemerintah memberikan perhatian kepada para pramuwisata di Kabupaten Berau, yang selama ini juga turut membantu mempromosikan pariwisata.

“Kami menyadari, pekerjaan kami berinteraksi langsung dengan wisatawan asing dan lokal. Berisiko menyebarkan COVID-19. Kami taat peraturan pemerintah untuk diam di rumah. Tapi kami kami juga punya keluarga, punya cicilan dan tagihan yang harus dibayar,” ujarnya.

Selama ini, kata Tanto, dirinya dan rekan-rekan sesama anggota HPI telah berupaya untuk mengajukan bantuan dari program pemerintah penanganan covid-19. Sesuai prosedur, pengajuan itu harus disampaikan melalui Ketua RT masing-masing.

Namun saat ini, pemerintah masih memprioritaskan warga miskin. Tanto dan rekan-rekannya tentu tidak masuk dalam kategori miskin, karena sebelumnya memiliki pekerjaan dan penghasilan. Tapi sudah lebih dua bulan ini, tidak ada wisatawan yang datang.

Menanggapi hal ini, Ketua HPI Berau membenarkan, selama wabah virus corona ini berlangsung, tidak banyak yang dilakukan oleh anggota HPI.

“Sementara ini tidak banyak yang bisa dilakukan, kalau teman-teman guide yang berdomisili di pulau, sama sekali tidak ada yang dilakukan karena memang tidak ada wisatawan. Kalau berdomisili di Tanjung Redeb bisa bekerja serabutan,” ungkapnya.

Menurut Yudi Rizal, hingga kini belum ada langkah yang diambil pemerintah untuk membantu anggota HPI yang kehilangan pekerjaan.

“Ini yang kami harapkan ada perhatian dari pemerintah daerah. Tapi Sampai sekarang tidak ada pendataan mengenai anggota HPI yang terdampak,” kata Yudi yang juga menjabat sebagai Ketua Berau Journalist Divers ini.

Meski pemerintah telah menyarankan anggota HPI untuk mengajukan bantuan melalui RT, namun Yudi Rizal menilai, persoalan ini tidak dapat diselesaikan di tingkat RT, perlu campur tangan dari pemerintah.

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved