Belanja

Panic Buying Justru Datangkan Penyakit? Ini Penjelasan dari Dokter

Hal tersebut dilakukan karena masyarakat terlalu takut menghadapi virus yang satu ini dan berpikir bahwa Indonesia akan segera melakukan karantina

Tribunnews
Panic buying 

Panic Buying Justru Datangkan Penyakit? Ini Penjelasan dari Dokter

TRIBUNKALTIM.CO, TRAVEL - Pada awal bulan Maret 2020 yang lalu, Presiden Jokowi menyampaikan secara resmi bahwa sudah ada WNI di Indonesia yang terinfeksi virus corona.

Tak menunggu lama, sebagian masyarakat Indonesia pun langsung berbondong-bondong melakukan panic buying yang menyebabkan banyak stok produk menipis bahkan habis.

Hal tersebut dilakukan karena masyarakat terlalu takut menghadapi virus yang satu ini dan berpikir bahwa Indonesia akan segera melakukan lockdown atau karantina.

Menanggapi hal tersebut, dokter yang sekaligus helt & life coach, dr. Kasim Rasjidi menyampaikan bahwa justru panic buying tersebut memancing datangnya berbagai penyakit lainnya.

Kok bisa? Pihaknya mengamati bahwa mereka yang melakukan panic buying lebih memilih produk makanan yang mengandung karbohidrat simple dan makanan olahan.

“Sesuatu-sesuatu yang beku yang mungkin kandungan senoestrogen atau estrogen yang bukan beneran dan sifat jahatnya itu ada,” tambah dr. Kasim.

belanja makanan bersama anak
belanja makanan bersama anak (net)

Padahal di sisi lain, karantina atau work form home yang saat ini dilakukan di Indonesia bertujuan untuk melindungi warga dari serangan virus corona dan membangun daya tahan tubuh yang baik.

 

Kalau dalam rangka membangun daya tahan tubuh yang baik itu justru sebagian besar orang mengonsumi makanan kaleng yang tidak fresh, maka tujuan tersebut pun tidak akan tercapai.

Pihaknya juga menegaskan kepada semua orang yang sedang melakukan karantina dirinya di dalam rumah, untuk tidak hanya berdiam diri.

“Di keadaan Anda di rumah itu, Anda bergerak enggak? Anda terpapar sinar matahari enggak? Karena kalau yang Anda konsumsi justru terigu yang banyak, gula yang banyak, minuman berkarbonasi, maka yang terjadi Anda justru memasukkan sesuatu yang melemahkan diri,” tegasnya.

Selain itu, apa bila terlalu banyak zat kimia yang masuk ke dalam tubuh, maka tubuh pun tidak akan serta merta menerimanya dan memaksa tubuh untuk bekerja lebih keras.

Hal ini juga yang menyebabkan daya tahan tubuh tidak terbentuk, justru sebaliknya tubuh akan merasa lebih lemah.

“Jadi yang terpenting kita dapat memberikan makna lebih dan mengoptimalkan karantna ini membuat kita menjadi lebih baik,” tegas dr. Kasim.

Ikuti kami di
Editor: Server
Sumber: Tribunnews
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved