Shopping

Apa Itu Panic Buying? Apa Pemicunya?

Pengumuman ini membuat masyarakat panik dan memborong barang-barang di berbagai ritel-ritel Indonesia dalam sebuah fenomena yang disebut panic buying.

net
belanja makanan bersama anak 

"Analisis lebih dekat menunjukkan bahwa pemilihan ini karena asosiasi produk-produk tertentu dengan kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau kemampuan untuk membantu mengatur suatu masalah," tulis Yap dan Chen dalam situs resmi Insead.

Mereka pun menulis bahwa berbelanja tisu basah, mi instan dan masker mungkin tidak akan membantu menjaga keamanan seseorang; namun membelinya bisa memberikan ketenangan dan rasa memegang kontrol.

Tidak rasional

Di sisi lain, orang-orang yang melakukan panic buying mungkin terlihat tidak rasional dengan memborong berdus-dus mi instan, berkarung-karung beras hingga berkantung-kantung tisu toilet yang sebetulnya tak ada gunanya untuk menangkal virus corona.

Neurosains menjelaskan bahwa ketika kita merasa terancam, misalnya oleh Covid-19, amygdala atau bagian otak yang memproses rasa takut dan emosi menjadi kelewat aktif dan berakibat pada matinya proses berpikir rasional.

Alhasil, seseorang menjadi kurang rasional dan lebih mudah terpengaruh oleh pola pikir kelompok atau memunculkan mentalitas gerombolan.

Faktor-faktor ini bersatu dan membuat seseorang menjadi lebih rentan melakukan salah penilaian.

Dr Sara Houshmand, seorang psikolog klinis dari Central Health Hong Kong berkata bahwa meskipun dapat memberiksan rasa lega dan kontrol yang singkat, berperilaku menuruti kecemasan sering kali membuat seseorang lebih merasa dalam bahaya.

"Kebanyakan orang yang melakukan perilaku ini (panic buying) akan setuju bahwa tisu toilet tidak memberikan imunitas terhadap virus corona. Lama kelamaan, perilaku yang tampak protektif dan tidak berbahaya ini akan memiliki kapasitas untuk membuat individu terus-terusan berada dalam silus stres dan cemas, yang bisa mengompromi kesehatannya," ujarnya.

Pada saat-saat tubuh kesulitan untuk berpikir rasional, Housmhmand menyarankan untuk memaksa tubuh mengurangi rasa stres.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Geafry Necolsen
Sumber: Tribun Kaltim
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved