Shopping

Apa Itu Panic Buying? Apa Pemicunya?

Pengumuman ini membuat masyarakat panik dan memborong barang-barang di berbagai ritel-ritel Indonesia dalam sebuah fenomena yang disebut panic buying.

net
belanja makanan bersama anak 

Ini tidak hanya mencakup China, Hong Kong, Korea Selatan dan Jepang saja, tetapi juga Italia, Jerman, Austria dan berbagai negara lainnya.

Fenomena ini pun menarik perhatian para ahli psikologi dunia untuk mencoba menjelaskannya. Mengambil kembali kontrol Penjelasan pertama yang diberikan oleh para ahli adalah panic buying dilakukan untuk mengambil kembali kontrol.

Terkait panic buying di Hongkong, psikolog klinis Dr Cindy Chan menjelaskan kepada South China Morning Post, Selasa (25/2/2020) bahwa ada banyak faktor dari Covid-19 yang membuat seseorang bisa merasa kehilangan kontrol.

Ini mulai dari terus meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi dan angka kematian, hingga ditutupnya fasilitas-fasilitas umum.

Untuk mendapatkan kembali kontrol, orang-orang pun melakukan panic buying agar merasa telah melakukan apa yang bisa mereka lakukan.

Belanja online saat ini menjadi pilihan aman untuk menhindari kerumunan dan terinfeksi virus corona.
Belanja online saat ini menjadi pilihan aman untuk menhindari kerumunan dan terinfeksi virus corona. (net)

Andy J Yap, Assistant Professor of Organisational Behaviour dari sekolah bisnis Insead, dan Charlene Y Chen, Assistant Professor of Marketing dari sekolah bisnis Nanyang, juga sependapat.

Dalam studi baru yang mereka lakukan dengan Leonard Lee, Professor of Marketing at NUS Business School; mereka menemukan ketika merasa kehilangan kontrol, konsumen akan menggantikannya dengan membeli barang-barang berguna yang didesain untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Dipublikasikan dalam Journal of Consumer Research, Yap, Chen dan Lee meminta dua kelompok partisipan untuk berbelanja.

Kelompok pertama diminta untuk mengingat situasi di mana mereka hanya memiliki sedikit kontrol, sementara kelompok kedua diminta mengingat ketika mereka memegang kontrol.

Hasilnya, kelompok pertama membeli lebih banyak barang-barang yang "lebih berguna" daripada kelompok kedua, seperti lebih memilih sepatu yang fungsional daripada yang trendy.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Geafry Necolsen
Sumber: Tribun Kaltim
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved