Travel Parents

Anak yang Rajin Sarapan, Lebih Cerdas Secara Akademis

Tak sedikit yang tak memiliki kebiasaan sarapan bernutrisi sejak kecil. Padahal, sarapan bisa memengaruhi performa akademik anak.

Nakita
Ilustrasi: sarapan 

"Kami ambil nilai semester paling terakhir, lalu kami lihat nilainya dan seluruhnya dirata ratakan nilainya dan dibandingkan," kata Lanang.

Menurut dia, sarapan anak-anak tersebut tergolong bernutrisi. Untuk karbohidrat, biasanya mereka mengonsumsi nasi, namun ada pula yang menyantap mie. Sementara, lauk pauk kebanyakan mengonsumsi sayur, telur, dan ikan.

Setidaknya, kata Lanang, sarapan mampu memenuhi empat dari tujuh komponen gizi.

Ada pun tujuh komponen gizi tersebut adalah biji-bijian utuh, legume dan kacang-kacangan, produk susu, daging, telur, sayur, dan buah kaya vitamin A, serta sayur dan buah lainnya.

"Paling tidak dari tujuh ada empat komponen yang dipenuhi, tapi hewani tetap harus ada. Kalau bisa lebih dari empat bagus," ujar dia.

Mengapa sarapan berkorelasi dengan nilai akademik?

Lanang menjelaskan, sarapan mampu menyediakan energi yang cukup. Energi berfungsi mensuplai tenaga bagi anak. Aktivitas apa pun tidak akan menjadi optimal tanpa energi yang cukup.

"Kerja apa pun kalau lapar pasti tidak nyaman, tidak konsen, diberi materi apapun otak akan merespons dengan baik," tutur dia. Gut-Brain Connection Pada kesempatan yang sama, ahli neuroanatami dan neurosains Dr. dr. Taufiq Pasiak, M.Kes, M.Pd juga mengungkap pemikirannya.

Dia menyebut sebuah teori Gut-Brain Connection (GBC) yang berkembang pada 10 tahun terakhir. Teori ini mengungkap, usus ternyata juga bisa memengaruhi otak.

Pengaruh tersebut datang melalui sejumlah syaraf, imunologi, bahkan hormonal.

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: Geafry Necolsen
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved