Travel Parents

Anak yang Rajin Sarapan, Lebih Cerdas Secara Akademis

Tak sedikit yang tak memiliki kebiasaan sarapan bernutrisi sejak kecil. Padahal, sarapan bisa memengaruhi performa akademik anak.

Editor: Geafry Necolsen
Nakita
Ilustrasi: sarapan 

Anak yang Rajin Sarapan, Lebih Cerdas Secara Akademis

TRIBUNKALTIM.CO, TRAVEL - Semua orang sudah memahami bahwa sarapan sangat penting bagi tubuh. Namun, faktanya masih banyak orang tak terbiasa makan sarapan.

Tak sedikit yang tak memiliki kebiasaan sarapan bernutrisi sejak kecil. Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia, Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS, menyampaikan, tujuh dari 10 anak Indonesia kekurangan gizi sarapan.

Kebanyakan anak hanya memenuhi kebutuhan karbohidrat pada waktu sarapan, tapi tidak memenuhi kebutuhan lainnya.

Ini Akibatnya jika Anak Tidak Sarapan Sebelum ke Sekolah

Enggan Sarapan karena Takut Gemuk? Faktanya, Sarapan Malah Bikin Kurus

Dongkrak Produktivitas Kerja dengan Sarapan yang Sehat

Jangan Makan Pisang untuk Sarapan, Ini Alasannya

Padahal, sarapan bisa memengaruhi performa akademik anak. Terkait dengan isu sarapan, penelitian yang dilakukan oleh Dr. dr. I Gusti Lanang Sidiartha Sp. A(K) mengungkap temuan menarik.

Disebutkan, anak-anak yang terbiasa sarapan bernutrisi memiliki nilai akademik empat kali lebih tinggi dibandingkan yang tidak sarapan.

"Apakah Anda mau anaknya cerdas? Kalau mau, wajib memberi sarapan bernutrisi." Begitu kata Lanang dalam konferensi pers di kawasan Sudirman, Jakarta.

Jurnal berjudul "Kebiasaan Sarapan Pagi dan Performa Akademis pada Anak" yang diteliti oleh Lanang melibatkan 178 anak berusia 6-12 tahun, di salah satu desa di Gianyar, Bali.

Lanang kemudian mendata berapa banyak anak yang terbiasa sarapan dan tidak. Ternyata, sekitar 51,7 persen anak memiliki kebiasaan sarapan.

Anak-anak yang memiliki kebiasaan sarapan rupanya juga memiliki nilai rapor dengan rata-rata di atas 7,1.

"Kami ambil nilai semester paling terakhir, lalu kami lihat nilainya dan seluruhnya dirata ratakan nilainya dan dibandingkan," kata Lanang.

Menurut dia, sarapan anak-anak tersebut tergolong bernutrisi. Untuk karbohidrat, biasanya mereka mengonsumsi nasi, namun ada pula yang menyantap mie. Sementara, lauk pauk kebanyakan mengonsumsi sayur, telur, dan ikan.

Setidaknya, kata Lanang, sarapan mampu memenuhi empat dari tujuh komponen gizi.

Ada pun tujuh komponen gizi tersebut adalah biji-bijian utuh, legume dan kacang-kacangan, produk susu, daging, telur, sayur, dan buah kaya vitamin A, serta sayur dan buah lainnya.

"Paling tidak dari tujuh ada empat komponen yang dipenuhi, tapi hewani tetap harus ada. Kalau bisa lebih dari empat bagus," ujar dia.

Mengapa sarapan berkorelasi dengan nilai akademik?

Lanang menjelaskan, sarapan mampu menyediakan energi yang cukup. Energi berfungsi mensuplai tenaga bagi anak. Aktivitas apa pun tidak akan menjadi optimal tanpa energi yang cukup.

"Kerja apa pun kalau lapar pasti tidak nyaman, tidak konsen, diberi materi apapun otak akan merespons dengan baik," tutur dia. Gut-Brain Connection Pada kesempatan yang sama, ahli neuroanatami dan neurosains Dr. dr. Taufiq Pasiak, M.Kes, M.Pd juga mengungkap pemikirannya.

Dia menyebut sebuah teori Gut-Brain Connection (GBC) yang berkembang pada 10 tahun terakhir. Teori ini mengungkap, usus ternyata juga bisa memengaruhi otak.

Pengaruh tersebut datang melalui sejumlah syaraf, imunologi, bahkan hormonal.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved