Traveling

Tukang Foto Keliling Masih bertahan di Monas

meski hanya mampu menggaet satu atau dua orang menggunakan jasa fotonya, setiap orang biasanya akan meminta lebih dari satu foto untuk dicetak.

Editor: Geafry Necolsen
Thinkstock
Ilustrasi fotografer jalanan 

Tukang Foto Keliling Masih bertahan di Monas

TRIBUNKALTIM.CO, TRAVEL - Traveling tanpa foto rasanya banyak yang akan terlewatkan. Kenanganmu saat berada di suatu tempat, mungkin tidak akan terulang kembali.

Namun tidak jarang kita lupa membawa handphone atau kamera. Tapi jangan khawatir, di banyak tempat objek wisata, masih banyak yang menawarakn jasa foto yang bisa digunakan. Salah satunya di Monumen Nasional (Monas) Jakarta.

Mengambil Foto Tanpa Izin, 8 Hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan saat Liburan ke Luar Negeri

Ini 7 Tips Fotografi Perjalanan, Jangan Lupa Bersenang-senang

Mengambil Foto Wisata Saat Minim Cahaya dengan Ponsel, Simak Tipsnya

Wisata populer berlokasi di Jakarta Pusat

Profesi tersebut bukanlah sesuatu yang baru terjadi melainkan sudah ada bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi, era kian modern.

Sebagian masyarakat lebih mengandalkan ponsel canggih atau kamera sendiri untuk mengambil foto. Lantas, bagaimana nasib tukang foto keliling di Monas kini?

“Tentu lebih mending dulu dibandingkan dengan sekarang. Sekarang masih berkecukupan untuk memberi makan keluarga, tapi penghasilan lebih banyak dulu. Banyak yang minta foto dan cetak,” tutur Rony, salah seorang tukang foto keliling Monas saat ditemui.

Dulu, Rony mampu mencetak hingga ratusan foto setiap harinya. Kini, ia hanya mampu mencetak kurang lebih 20 foto per hari.

Rony mengatakan bahwa keuntungan yang didapat tukang foto keliling dinilai dari jumlah cetakan foto. Sebab, meskipun dia hanya mampu menggaet satu atau dua orang untuk menggunakan jasa fotonya, setiap orang biasanya akan meminta lebih dari satu foto untuk dicetak.

“Sempat waktu itu ada satu kelompok wisatawan yang minta hingga belasan fotonya dicetak. Sudah pasti menguntungkan karena satu cetak foto kan Rp 15.000,” tutur Rony.

Sudah bekerja lebih dari 10 tahun, Rony masih menekuni profesi tersebut karena hobi. Menurutnya, pekerjaan apapun yang dilakukan atas dasar kesukaan tetap membuatnya senang meski pendapatan tidak seberapa.

Walaupun harga penawaran jasa foto dan cetak hanya Rp 15.000 per foto, namun Rony mengatakan dia mendapatkan modal balik yang cukup menguntungkan.

Dimulai dari kamera analog, kamera poket, kamera DSLR, alat pencetak foto profesional di rumahnya, hingga alat pencetak foto portable, semuanya mampu dibeli dari penghasilannya sebagai tukang foto keliling Monas.

Walaupun jumlah wisatawan yang meminta fotonya dicetak tidak sebanyak dulu, Rony mengatakan jasa tukang foto keliling masih diminati pengunjung Monas.

“Sering sekali wisatawan minta foto tapi tidak dicetak. Kami (tukang foto keliling Monas) kenakan Rp 5.000 untuk mengirim foto dari kartu memori kamera ke hp mereka,” kata Rony.

Ditinggal pergi begitu saja

Terdapat beberapa tukang foto keliling berkumpul di halte Mobil Wisata pintu masuk Monas dekat Parkir IRTI dan pujasera Lenggang Jakarta.

Di sana, mereka menawarkan jasa foto kepada para wisatawan yang baru tiba dan sedang menunggu kedatangan kendaraan pengantar menuju pintu masuk Tugu Monas.

Uniknya, sebagian dari tukang foto keliling mencetak foto wisatawan terlebih dahulu yang kemudian ditawarkan kepada wisatawan lain sebagai contoh produk hasil tangkapan kamera mereka.

“Ini salah satu dukanya selain permintaan cetak foto yang menurun. Banyak wisatawan yang minta foto terlebih dulu, ketika sudah dicetak, mereka pergi. Bilangnya mau ke dalam Tugu Monas dulu. Setelah ditunggu sampai sore kok tidak pernah muncul,” tutur Rony.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved